<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Anusapati.com</title>
	<atom:link href="http://anusapati.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://anusapati.com</link>
	<description>…memandang masa lalu dari cermin berbeda</description>
	<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 10:04:38 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>TERUNGKAP! (Benarkah?)</title>
		<link>http://anusapati.com/?p=264</link>
		<comments>http://anusapati.com/?p=264#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 09:49:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anusapati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[Kebumen]]></category>

		<category><![CDATA[Kusman]]></category>

		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>

		<category><![CDATA[Soeharto]]></category>

		<category><![CDATA[Untung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anusapati.com/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaannya adalah, seberapa mengenal warga desa dengan sosok Soeharto? Zaman itu, akses informasi dan transportasi tentu sangat buruk. Bagaimana jika yang datang Kemal yang mengaku mewakili Soeharto namun disosialisasikan sebagai Soeharto? Apakah ini takkan jadi salah persepsi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom: 0in;"><em>TERUNGKAP! Pertautan Soeharto-Untung</em>. Begitu awal <em>headline</em> <a href="http://epaper.korantempo.com/KT/KT/2009/10/05/index.shtml" onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outbound/article/epaper.korantempo.com');" target="_blank">Koran Tempo hari ini</a>. Wah saya senang juga membaca berita ini. Sudah lama tak ada berita yang berkaitan sejarah. Apalagi jadi headline.  Koran Tempo (Kortem) sampai berani keluar dari <em>mainstream </em>pemberitaan gempa Sumbar dan juga episode Cicak vs Buaya, untuk mengungkapkan mata rantai yang belum tersambung antara Soeharto dengan Letkol Untung.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Saya sudah baca Kortem pagi tadi jam 06.00 WIB. Poin-nya adalah teori hubungan dekat Soeharto-Untung diteguhkan melalui serangkaian wawancara dan rekonstruksi peristiwa.</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;">Wawancara Suhardi, eks majikan 	kecil ayah angkat Untung di Solo sekaligus sejawat di Cakrbirawa; 	yang memprediksi tautan Untung dan Soeharto pertama kali ketika 	Untung bertugas di Korem Solo selepas melarikan diri dari Clash 	1948.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;">Rekonstruksi (katakanlah demikian) 	kedatangan Soeharto ke Kebumen; yang antara lain berdasar wawancara 	dengan tetangga di seputar kediaman Untung di Kebumen dan juga Kol 	Maulwi Saelan, bekas atasan Untung di Cakrabirawa. Isinya rata-rata 	mengiyakan kedatangan Soeharto, sampai ada yang bilang kedatangan Soeharto mendadak hingga membuat bingung tuan rumah.</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom: 0in;">Kalau melihat penyajian tulisan, titik berat penemuan tautan itu lebih pada poin kedua. Karena statemen Suhardi memang bukan hal yang baru. Mantan Jurnalis Kompas, Julius Pour pertama kali menuliskannya. Sementara, kesaksian tetangga Untung, memang publikasi yang baru. Begitu yakinnya Kortem telah menemukan <em>&#8216;missing link&#8217;</em> itu, sampai menghasilkan <em>headline </em>seperti yang saya sebut di muka.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Lalu bagaimana?</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Hmmm.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Saya termasuk yang percaya ada hubungan antara Untung dengan Soeharto. Walau saya tak tahu sedalam apa hubungan itu. Apakah langsung, jaga jarak atau dekat namun harus melalui Kolonel Latief. (Bisa dibaca dari pledoi Latief, bahwa semula Untung yang harus menyampaikan rencana Gestok ke Soeharto. Namun Untung meminta Latief karena dianggap lebih dekat pada Soeharto).</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Namun saya pun mesti mahfum, mengaitkan kedekatan Soeharto dengan Untung memang bukan perkara gampang. Sejauh ini, teori kedekatan keduanya ini selalu merujuk pada peristiwa kedatangan Soeharto ke Kebumen menghadiri resepsi pernikahan Untung – yang coba dibuktikan Kortem. Memang itu salah satu poinnya selain pernyataan Soebandrio yang menyebut Untung mengaku di-<em>back up </em>Soeharto. Tapi apakah benar?</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Bagi saya, tulisan Kortem memperkaya pengetahuan seputar rumor kedatangan Soeharto ke Kebumen. Namun belum menjawab mutlak kebenaran peristiwa itu. Saya bersandar pada 3 hal:</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">1. <strong>Saya belum menemukan motif Kemal 	Idris (<a href="http://anusapati.com/?p=243"  target="_self">Baca tulisan saya terkait ini</a>) untuk menjadi bemper Soeharto</strong> dengan mengaku-aku bahwa dialah yang mewakili Soeharto menghadiri 	pernikahan Untung di Kebumen. Biografi itu ditulis ketika status 	Kemal dianggap <em>dissident</em> rezim Seeharto. (Kecuali tentunya, Kemal 	terpaksa berbohong demi rujuk dengan Soeharto pada saat itu).</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">2. <strong>Mengenai kesaksian tetangga 	Untung. </strong>Pertanyaannya adalah, seberapa mengenal warga desa dengan 	sosok Soeharto? Zaman itu, akses informasi dan transportasi tentu 	sangat buruk. Bagaimana jika yang datang Kemal yang mengaku mewakili Soeharto namun 	disosialisasikan sebagai Soeharto? Apakah ini takkan jadi salah 	persepsi.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">3. <strong>Kesaksian Kolonel Maulwi Saelan 	maupun Suhardi.</strong> Ini jelas yang paling lemah. Keduanya mengakui tahu 	kedatangan Soeharto ke Kebumen sebatas katanya-katanya, berdasar 	rumor yang ada di kalangan perwira AD. Artinya kesaksian mereka 	bukan A1.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Nah,  dengan asumsi yang demikian&#8230;..benarkah telah TERUNGKAP&#8230;.?</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Tapi bagaimanapun, saya tetap salut dengan Kortem. Publik mestinya lebih banyak diingatkan akan sejarah masa lalu, agar tak salah langkah di masa depan.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Tabik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anusapati.com/?feed=rss2&amp;p=264</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tanya Pram pada Tan Malaka</title>
		<link>http://anusapati.com/?p=251</link>
		<comments>http://anusapati.com/?p=251#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 04:33:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anusapati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[Jepang]]></category>

		<category><![CDATA[Pramudya]]></category>

		<category><![CDATA[Spionase]]></category>

		<category><![CDATA[Tan Malaka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anusapati.com/?p=251</guid>
		<description><![CDATA[Tan Malaka, siapapun tahu, tokoh nasionalis komunis ini legenda tersendiri dalam sejarah revolusi Indonesia. Walau nasib dan tindakannya kontroversial, umumnya publik sepakat ia pejuang sejati. Apa jadinya jika Tan Malaka seorang agen Jepang?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagaimana jika ternyata Tan Malaka adalah agen intelijen Jepang? Itulah ternyata yang terbersit dalam benak Pramudya Ananta Toer, maestro penulis novel kita. Sebuah kecurigaan yang (mungkin) tak ia jumpai jawabannya sampai perhentian terakhirnya tiga tahun silam. Namun setitik tanya tentang Tan Malaka itu masih sempat ia lemparkan ketika berdiri di depan podium untuk menerima Fukuoka Asian Culture Grand Pize di Jepang, tahun 2000 silam.</p>
<ul>
<li><em>&#8220;I do not know the role of Tan Malaka, who was known as a nationalist and communist, in the relationship with Japan. I do know, however, that when Japan invaded Myanmar, Tan Malaka was in Myanmar. When Japan invaded Singapore, he was in Singapore. When Japan invaded</em><em> Sumatra, he was in Sumatra. When Japan invaded Java, he was in Java. I still have not been able</em><em> to unravel this mystery.&#8221;</em></li>
</ul>
<p>Nakal bukan? Liar pasti lebih tepatnya. Memang tak secara eksplisit nada tanya itu disampaikan, tapi logika yang paling sederhana pun akan mengaitkannya dengan kegiatan spionase. Dan bagi saya, ini orisinil. Menarik sekali. Saya belum pernah membaca tulisan yang mengkaitkan Tan Malaka adalah agen intelijen asing, apalagi Jepang, kekuatan fasis yang mestinya diperangi oleh komunis seperti Tan Malaka.</p>
<p>Persoalannya menjadi kian menarik karena riwayat Tan Malaka pun tak mudah ditelusuri. Hidupnya lebih banyak di bawah keremangan bulan. Berpindah-pindah, mengendap-endap kesana kemari, lengkap dengan bumbu fiksi. Sebuah lakon yang membuat setengah kisah hidupnya yang ada di publik adalah fiksi. Bahkan tulisan paling komplet Harry Poeze tentang Tan Malaka pun boleh jadi tak bisa menelanjangi Tan Malaka kasat mata.</p>
<p>Tapi Pram juga pasti tak sembarang melempar tanya. Pram bukan cuma novelis, ia juga sejarawan andal. Ken Arok dan Kronik Revolusi memperlihatkan ketekunannya melakukan riset. Sebuah aktivitas yang bisa mencetaknya untuk tak mudah percaya dengan faktor kebetulan. Bagaimana tidak bertanya jika seseorang &#8217;secara kebetulan&#8217; ada di empat wilayah yang tak lama kemudian terkena invasi.</p>
<p>Pram memang tak menyebutkan dalil-dalil penguat kecurigaannya. Mungkin tak sempat. Atau mungkin juga saya alpa membaca kelanjutannnya. Maklum saya pun jauh dari lingkaran hidup Pram. Tapi baiklah bagaimana jika kita membuat alur tersendiri. Berandai menjadi sosok Pram, dan menelusuri kemungkinan Tan Malaka seorang agen Jepang.</p>
<p>Nah dalam perspektif meraba wacana itulah, kita akan mendapat penjelasan yang masuk akal. Yang namanya perang, termasuk juga jaman dahulu, kegiatan spionase adalah kelaziman. Sebelum operasi dilakukan, tim pertama yang diterjunkan adalah intelijen. Mereka menjalankan berbagai misi, entah spionase atau misi sosial agar resistensi masyarakat lokal bisa diredam.</p>
<p>Dua minggu sebelum Jepang menyerbu Ternate, mendadak Honun Maru - sebuah perusahaan swasta pelayaran - menutup kantornya yang berdiri sejak tahun 1934 di Manado dan Ternate. Sejurus kemudian, di antara tentara-tentara Jepang yang petantang-petenteng di Ternate, ada anak pemilik Honun Maru, Igawa yang membawa daftar orang yang harus ditangkapi Kempetai.</p>
<p>Tim semacam ini pula yang dimasuki oleh Ichiki Tatsuo pada musim semi di Tokyo tahun 1941. Pengalaman hidupnya di Palembang dan Bandung membuatnya ia dipanggil masuk dalam Korps kebudayaan. Korps ini dipimpin oleh Kolonel Machida Keiji dengan tugas menyusup ke Hindia Belanda untuk &#8216;mensosialisasikan&#8217; bakal datangnya saudara tua mereka, Nippon.</p>
<p>Rata-rata mereka yang dipanggil punya kemampuan bahasa melayu. Entah itu lulusan universitas atau pernah tinggal di Hindia. Menariknya, jangan salah, tak semuanya warga asli Jepang. Pribumi Hindia Belanda pun ada, di antaranya adalah Yusuf Hassan, seorang agen yang diidentifikasikan dalam dokumen militer Jepang sebagai salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia.</p>
<p>Tan Malaka sendiri pun tak asing dengan korps ini. Setidaknya, ia mengenal baik salah satu anggotanya, yakni Yoshizumi Tomegoro yang dipanggilnya dengan sebutan Arief.  (Tatsuo pun punya nama Indonesia Abdul Rachman yang diberikan oleh KH Agus Salim. Kelak, tahun 1949, Tatsuo gugur ditembak Belanda setelahbergaung dengan republik dan menolak kembali ke negaranya.)</p>
<p>Adakah Tan Malaka masuk dalam korps intelijen tersebut? Jelas saya tak tahu jawabnya. Namun kira-kira dalam atsmosfer seperti itulah (mungkin Pram pikir) sosok Tan Malaka bisa hadir dalam misi spionase, mempersiapkan masyarakat lokal untuk menerima sang saudara tua. Hanya saja, ia kebagian peran tak strategis, menggarap masyarakat marginal di pelosok Banten.</p>
<p>Kalau ditambah dengan berandai-andai, amunisi kecurigaan itu bisa saja bertambah. Bisa saja selama dalam periode gelap menjadi buron polisi internasional di luar negeri, Tan bisa eksis karena dilindungi oleh agen-agen Jepang. Sekali lagi, ini hanya berandai-andai.</p>
<p>Tan sendiri bukannya tak tahu ia sempat digosipkan antek Jepang. Tatkala muncul warta bahwa ia berpidato di Sumatera Barat dalam seragam kolonel tentara Jepang, Tan membantahnya melalui biografinya, <em>Dari Penjara ke Penjara.</em> &#8220;Saya maklum, Jepang melakukan taktik ini untuk menipu rakyat,&#8221; katanya.</p>
<p>Adakah Tan Malaka jujur adanya? Jika imaji ini masih boleh melayang membayangkan Pram yang bertemu Tan Malaka di alam sana, apa jawaban kira-kira jawaban Tan Malaka?</p>
<p>Tulisan ini tak bermaksud untuk membuka pintu kontroversi, tidak juga memunculkan cerita fiksi yang baru tentang Tan Malaka. Hanya iseng, sekedar mencoba menyusuri perspektif yang mungkin digunakan Pram untuk bertanya pada Tan Malaka, siapa Anda?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anusapati.com/?feed=rss2&amp;p=251</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Siapa ke Pernikahan Kusman?</title>
		<link>http://anusapati.com/?p=243</link>
		<comments>http://anusapati.com/?p=243#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 10:43:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anusapati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[Kebumen]]></category>

		<category><![CDATA[Kemal]]></category>

		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>

		<category><![CDATA[Soeharto]]></category>

		<category><![CDATA[Untung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anusapati.com/?p=243</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu yang banyak digemborkan dalam artikel internet sejak jaman pra-online sekalipun yakni kedatangan Soeharto menghadiri pernikahan Untung di Kebumen pada tahun 1964. Tapi benarkah Soeharto memang datang ke Kebumen?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bicara soal Gestok akan banyak sekali teori tentang siapa dalang pagebluk nasional tersebut. Salah satunya menunjuk pada sang tokoh pahlawan dalam babad berdarah, Mayjen Soeharto. Para penganut <span style="text-decoration: line-through;">tarekat</span> teori ini biasanya menyandarkan rumusnya pada kedekatan para aktor antagonis Gestok dengan Soeharto. Entah itu, Soeparjo, Latief atau Untung Samsuri (nama aslinya adalah Kusman).</p>
<p>Nah, kalau bicara soal tokoh yang terakhir ini, salah satu yang banyak digemborkan dalam artikel internet sejak jaman pra-online sekalipun yakni kedatangan Soeharto menghadiri pernikahan Untung di Kebumen pada tahun 1964.  Momen ini digarisbawahi karena tak lazim jenderal bintang dua mau mengunjungi pesta kawin seorang mayor yang letaknya begitu jauh. <em>Pasti ada apa-apanya &#8230;</em></p>
<p>Fakta kedatangan Soeharti ke Kebumen konon tertangkap pena wartawan. Koran <strong>Pikiran Rakyat </strong>Bandung konon lagi (karena saya juga tak pernah baca aslinya) pernah menuliskannya. Bahwa seorang mayor jenderal datang ke pernikahan Untung dengan mengendarai Jeep. (Bayangkan lho, Jakarta - Kebumen dengan kondisi jalan dan suasana tahun 1960-an). Cuplikan koran tersebutlah yang dipercayai banyak orang.</p>
<p>Tapi benarkah Soeharto memang datang ke Kebumen. Jika kita mau membuka Biografi Kemal Idris, <strong>Bertarung dalam Revolusi</strong>, ternyata jawabannya adalah TIDAK. Dalam sebuah catatan kecil, Kemal mengaku untuk pertama kalinya berkenalan dengan Untung ketika mendapat perintah menghadiri pernikahan Untung di Kebumen dari atasannya yakni Mayjen Soeharto.</p>
<p>Kemal saat itu baru masuk ke dalam Kostrad sebagai Pangkopur I dengan pangkat Brigadir Jenderal. Pangkopur II Kostrad adalah Brigjen Suparjo. Kemal didapuk menggantikan Mayjen Rukman yang menjadi Panglima Wilayah Indonesia Timur. (Baik Suparjo ataupun Rukman kemudian harus masuk sel karena dituding terlibat Gestok).</p>
<p>Kemal menjelaskan perkenalannya dengan Untung dengan amat minim. Hanya satu paragraf kecil.  Dalam paragraf tersebut juga sama sekali tak disinggung soal rumor atau kalau mungkin &#8216;kesalahan&#8217; berita yang menyebutkan bahwa Soeharto-lah yang datang ke Kebumen. Entah Kemal tahu rumor itu atau tidak.</p>
<p>Benarkah klaim Kemal Idris tersebut? Jangan-jangan ia &#8216;pasang badan.&#8217; Hmmm? Itulah misterinya. Namun jika merujuk pada tahun penerbitan BiografI Kemal yang dirilis tahun 1997, kecil juga kemungkinan Kemal berbohong. Pasalnya, jaman itu cengkeraman Orde Baru masih kuat, sementara posisi Kemal tengah dimarginalkan oleh lingkaran Soeharto berhubung kedekatannya dengan oposan Petisi 50.</p>
<p>Tapi biarlah, walau toh mungkin bukan Soeharto yang datang ke pernikahan Untung di Kebumen, tak serta merta juga menggugurkan teori bahwa Soeharto kenal dekat dengan Untung Samsuri, dus lebih jauh juga menggugurkan teori Soeharto adalah dalang Gestok. Penganut teori ini tentu masih punya banyak amunisi cadangan.</p>
<p>Lagipula, walaupun tak hadir dalam pernikahan Untung, toh Soeharto ternyata masih menyempatkan diri menunjuk seorang jenderal bintang satu untuk mewakilinya. Tentu ini karena ia memandang Untung (yang saat ini masih mayor) adalah salah satu perwira yang ada dalam radar <em>network</em>-nya. Sama halnya, seperti Benny Moerdani yang dipantaunya sejak di KKAD.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anusapati.com/?feed=rss2&amp;p=243</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Pembelotan Itu</title>
		<link>http://anusapati.com/?p=239</link>
		<comments>http://anusapati.com/?p=239#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Feb 2009 03:37:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anusapati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[Didi Kartasasmita]]></category>

		<category><![CDATA[NEFIS]]></category>

		<category><![CDATA[Pembelotan]]></category>

		<category><![CDATA[Sabur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anusapati.com/?p=239</guid>
		<description><![CDATA[...Juga Jenderal Mayor Didi Kartasasmita meninggalkan Republik Indonesia. Ia dijemput di Gombong dan menemui pembesar-pembesar KNIL di Jakarta, tempat ia dimintai keterangan-keterangan tentang TNI dan lain-lain yang penting. Lalu ia berdinas di Negara Pasundan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span id="more-239"></span> Rosihan Anwar terkesiap membaca buku yang dipegangnya. Buku itu diperlihatkan oleh mantan Panglima Siliwangi, Kol Alex Kawilarang dalam sebuah pertemuan jauh setelah era revolusi. Yang membuat kaget adalah, buku yang ditulis penulis Belanda itu mengutip dokumen rahasia NEFIS (Intel Belanda) yang berisi nama-nama perwira TNI yang sempat membelot ke kubu NICA namun di era kemerdekaan masuk kembali sebagai sipil atau kembali ke militer Indonesia. Beberapa di antaranya bahkan meraih pangkat jenderal.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Saya tak tahu siapa yang tercantum dalam daftar tersebut, Rosihan tak menyebutkannya. Dan ini membuat saya setahun belakangan menjadi penasaran. Pelahan namun tidak secara sengaja, saya coba cari nama-nama tersebut. Ini saya lakukan, karena mencari buku aslinya juga susahnya bukan main. Saya tak tahu judul buku ataupun nama penulis buku tersebut. Jadilah pencarian dilakukan secara gerilya sambil lalu.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Dan sampai saat ini, saya baru menemukan dua nama. Satu orang adalah Kapten Sabur (kelak Brigjen ajudan Soekarno) – seperti termuat dalam buku biografi Sayidiman Suryohadiprojo. Dan satu lagi, Jenderal Mayor Didi Kartasasmita, seperti yang disinggung dalam buku Soe Hok Gie, Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Saya nukilkan petikannya. …<em> Juga Jenderal Mayor Didi Kartasasmita meninggalkan Republik Indonesia. Ia dijemput di Gombong dan menemui pembesar-pembesar KNIL di Jakarta, tempat ia dimintai keterangan-keterangan tentang TNI dan lain-lain yang penting. Lalu ia berdinas di Negara Pasundan.</em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Buku Gie sendiri yang sekaligus merupakan karya skripsi-nya ditulis pada periode 1966-1968. Entah darimana Hok Gie memperoleh sumbernya. Mungkin dari Dinas Sejarah TNI atau tutur lisan saksi sejarah yang lain. Tapi yang jelas, isinya jelas menyudutkan Didi Kartasasmita. Reputasinya sebagai salah satu pendiri TNI (Didi punya peran sangat besar pada proses pembentukan organisasi TKR) jadi tercoreng.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Didi sendiri tahu tuduhan terhadap dirinya itu jauh sebelum Gie menulis skripsi. Ceritanya, di tahun 1961, oleh atasannya Menteri Perguruan Tinggi, Iwa Kusuma Sumantri, ia diposkan mewakili Iwa untuk duduk sebagai anggota forum penasihat Penguasa Perang Tertinggi (Paperti). Namun ternyata penunjukkannya ditentang oleh Kastaf Paperti, Kolonel Basuki Rachmad. Salah satu alasannya, karena ia seusai Agresi Militer I 1947, pernah disersi dan bergabung ke Negara Pasundan.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Karuan Didi tak terima namanya tercemar. Seperti disebut dalam biografinya, <strong>Pengabdian Bagi Kemerdekaan, </strong>Didi menjelaskan detil peristiwa yang membuat ia seolah menyeberang. Menurut Didi, per 31 Juli 1948, ia bukan lagi anggota TNI menyusul diterimanya surat dari Presiden Soekarno tetang permintaan pengunduran dirinya dari TNI (Didi mundur karena tak tahan dengan tekanan pemerintah pusat dan juga sebagai protes terhadap penggusuran peran Letjen Oerip Sumihardjo dan melompatnya perwira KNIL Yunior dalam stuktur kepemimpinan TNI, melampaui senior-seniornya).</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Masih menurut Didi, usai menerima surat itu, selama beberapa waktu ia berdiam di Purworejo. Saat dalam perjalanan ke Bandung mencari penghidupan sipil, ia ditangkap NICA di Purwokerto, 3 Oktober 1948 dan langsung dibawa ke Jakarta. Disana, Didi tidak bersenang-senang. Ia justru mendekam dalam sel selama 3 bulan sampai dibebaskan pada 10 Januari 1949. Dari situ, Didi pulang ke Bandung.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Tentang tuduhan bekerja di Negara Pasundan, Didi menyebutkan hal itu dilakukan karena terpaksa. Ia sama sekali tak punya pekerjaan gantungan membiayai keluarganya. Selain itu, dia pun &#8216;harus menerima&#8217; pekerjaan sebagai abdi pemerintah karena jika tidak, ia akan selalu dicurigai sebagai mata-mata pihak Republik. Didi menggarisbawahi, ia menolak penempatan di Negara Pasundan sebagai Komandan Batalyon Milisi pro-NICA, dan memilih menjadi administratur di Departemen Kesehatan.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Demikianlah&#8230;..manakah yang sebetul-betulnya fakta, saya pikir ikut luruh dengan berakhirnya masa!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anusapati.com/?feed=rss2&amp;p=239</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sepi</title>
		<link>http://anusapati.com/?p=232</link>
		<comments>http://anusapati.com/?p=232#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jan 2009 03:45:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anusapati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[Ali Moertopo]]></category>

		<category><![CDATA[Soeharto]]></category>

		<category><![CDATA[Yoga Soegama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anusapati.com/?p=232</guid>
		<description><![CDATA[Soeharto mungkin pribadi yang kesepian. Ia tak pernah benar-benar punya kawan sejati. Mengangkat orang terdekatnya dalam posisi paling strategis, memberi peluang munculnya musuh dalams selimut. Sementara membagi kekuasaan strategis pada orang luar, sama saja memelihara perasaan was-was sepanjang waktu.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Soeharto mungkin pribadi yang kesepian. Ia tak pernah benar-benar punya kawan sejati. Ia selalu menjaga jarak dengan siapapun. Orang-orang terdekatnya tak pernah betul-betul diserahi kekuasaan yang berlipat ganda, sementara orang-orang dengan posisi paling strategis yang ditunjuknya tak pernah benar-benar ia percayai.</p>
<p>Kita tengok saja apa yang terjadi di sepanjang 32 tahun kekuasaannya. Tak usahlah bicara luas-luas, cukup pada sekup militer saja yang menjadi pondasi tahtanya. Dalam istilah Jenderal Soemitro, dikenal hanya 3 orang perwira militer yang disebutnya sebagai &#8216;lingkaran dalam&#8217; Soeharto. Mereka ini adalah Jenderal Yoga Soegama, Letjen Ali Moertopo dan Mayjen Sudjono Humardani.</p>
<p>Ketiganya menjadi dekat dengan Soeharto, karena hubungan yang terpupuk lama sejak menjadi bawahan Soeharto semasa menjadi Kasdam Diponegoro di akhir tahun 1950-an. Hanya mereka bertiga yang bisa menyapa &#8216;Mas Harto&#8217; dengan bahasa rumahan, dan hanya mereka bertiga pula yang bisa keluar masuk kediaman Soeharto kapan saja.</p>
<p>Tapi apa yang diberikan Soeharto kepada ketiganya? Ketiganya memang diberi jabatan srategis, namun tak pernah dalam posisi sebagai pemuncak karir dalam hirarki militer yang mestinya menjadi cita-cita semua tentara. Baik Yoga, Ali maupun Humardani tak ada satupun yang pernah menjadi panglima KSAD, apalagi Panglima ABRI (eranya Soeharto nama TNI diganti menjadi ABRI).</p>
<p>Yoga selama lebih dari dua dasawarsa terhenti sebagai bos intel.  Ali dan Humardani, begitu posisi asisten pribadi (aspri) pasca Malari 1074 dibubarkan tak lagi punya jabatan mentereng. Hanya Ali yang sempat &#8216;terpakai&#8217; sebagai menteri penerangan. Dari ketiganya pun, hanya Yoga yang beruntung karena diberi pangkat jenderal bintang empat. Selebihnya cukup pensiun dengan bintang dua.</p>
<p>Sebaliknya posisi-posisi strategis, seperti panglima ABRI, Panglima Kostrad dan Pangkopkamtib justru diserahkan pada orang-orang yang tak pernah dekat 100% dengan Soeharto. Pada posisi Panglima ABRI, sebut saja pasa Soeharto, jabatan diberikan pada Jenderal Panggabean dan Jenderal M Jusuf yang berasal dari luar Jawa. Seterusnya jabatan Panglima ABRI langsung dioper pada generasi pasca angkatan 45.</p>
<p>Pos Pangkostrad yang mampu menggerakkan pasukan juga tak pernah diberikan pada mantan anakbuah Soeharto dari Kodam Diponegoro. Soeharto mengangkat Jenderal Umar Wirahadikusuma sebagai penggantinya. Setelah itu ada nama Kemal Idris (Siliwangi), Wahono (Brawijaya), Makmun Murod (Sriwijaya), Poniman dan Himawan Sutanto (Siliwangi).</p>
<p>Lembaga super, Kopkamtib yang amat berkuasa sepanjang keberadaannya juga tak pernah dipasrahkan pada Yoga atapun Ali Moertopo. Tongkat estafet justru diberikan pada Panggabean dan seterusnya pada Jenderal Soemitro, orang Brawijaya yang notabene belum lama dikenal Soeharto. Dan selanjutnya kepada Laksamana Sudomo setelah sebelumnya sempat dipegang sendiri Soeharto pasca Malari 1974.</p>
<p>Yang perlu dicatat, orang-orang &#8216;Antah Berantah&#8217; tadi meski memegang jabatan super, tak pernah benar-benar 100% dipercayai oleh Soeharto. Selalu ada grup lain yang menjadi peredam. Soeharto memainkan manajemen konflik yang tak berujung. Nyaris tak ada orang yang abadi untuk terus-menerus ada di sisinya.</p>
<p>Di sisi Soemitro ada Ali Moertopo dengan opsusnya. Soemitro langsung terpental begitu ia disebut-sebut orang terkuat nomor 2 di Indonesia (akhirnya berujung pada Malari). M Jusuf harus berbagi akses ke Soeharto dengan LB (Benny) Moerdani. Jusuf langsung terperam setelah popularitasnya di prajurit akar rumput membubung setinggi langit. Benny pun rontok tatkala perwira muda yang dimotori Prabowo Subianto (saat itu menantu Soeharto sendiri) menabuhkan isu keinginannya menjadi suksesor Soeharto.</p>
<p>Sementara itu sebagian dari perwira-perwira penting dari luar &#8216;ring 1&#8242; Soeharto akhirnya betul-betul memperlihatkan jaraknya. Kemal Idris mmeilih beroposisi pada Soeharto dengan bergabung pada Petisi 50. Soemitro aktif &#8216;mengingatkan&#8217; agar Soeharto tak lagi maju sebagai presiden, Himawan Susanto ikut meneken petisi yang meminta Soeharto mundur dari jabatannya.</p>
<p>Tidakkah Soeharto, pribadi yang sendiri? Ia tak pernah punya sahabat sejati yang ia percayai luar dalam. Mengangkat orang terdekatnya dalam posisi paling strategis, memberi peluang munculnya musuh dalams selimut. Sementara membagi kekuasaan strategis pada orang luar, sama saja memelihara perasaan was-was sepanjang waktu.</p>
<p>Pribadi yang kesepian ataukah memang itu &#8217;seninya&#8217; menjadi penguasa?</p>
<p><strong>Catatan;</strong> mungkin hanya orang AL, Laksamana Sudomo yang benar-benar setia sampai akhir kekuasaannya. Namun derajat hubungan Sudomo dan Soeharto tak sama seperti halnya dengan Yoga &amp; Ali Moertopo cs yang terbangun sejak bersama-sama di Diponegoro.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anusapati.com/?feed=rss2&amp;p=232</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Parangtritis 1947</title>
		<link>http://anusapati.com/?p=206</link>
		<comments>http://anusapati.com/?p=206#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 23:03:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anusapati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[Peristiwa Tiga Daerah]]></category>

		<category><![CDATA[PKI Ilegal]]></category>

		<category><![CDATA[Widarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anusapati.com/?p=206</guid>
		<description><![CDATA[Eksekusi Widarta menjadi menarik karena inilah mungkin satu-satunya eksekusi mati yang diputuskan oleh partai politik di nusantara, bukan oleh instrumen peradilan negara. Sosok Widarta sendiri kian membetot dialah yang mengajak DN Aidit bergabung dengan PKI.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>DOR!<br />
Widarta limbung. Dari pinggang kirinya mengucur darah yang segera membasahi pantat dan paha, sebagian jatuh ke pasir membentuk gumpal-gumpal kental merah kehitaman. Sambil menahan nyeri yang tak terperi, Widarta terus berusaha berlari. Lalu lamat-lamat didengarnya derap kaki-kaki mendekat.<br />
DOR!<br />
Ombak berdebur. Widarta merasakan sebagian uratnya mengejang. Ia terkenang jaring-jaring ikan yang ditarik para nelayan di Pantai Pemalang. Angin berdesir. Widarta teringat istri dan anak-anaknya yang berkejaran di hamparan pasir.<br />
Samar-samar terdengar seseorang berujar, &#8220;Sisakan sebutir buat saya, Cak!&#8221;<br />
&#8220;Hah? Kamu mau bunuh diri?&#8221;<br />
&#8220;Bukan. Saya ingin tahu rasanya menembak orang.&#8221;<br />
DOR!<br />
Widarta mendengar segarit jerit di sunyi langit. Seekor burung hitam melintas di angkasa, tak seorang pun melihatnya. Air, pasir, angin, daun-daun pandan-gemetar. Langit merah disepuh semburat cahaya fajar. </em></p></blockquote>
<p>Sekelumit fragmen di atas adalah penggambaran sastrawan Sitok Srengenge mengenai akhir hidup Widarta, ketua salah satu faksi PKI Ilegal yang beroperasi di jaman pendudukan Jepang. Eksekusi itu sendiri benar adanya, sementara detailnya seperti yang ditulis Sitok dan pernah dimuat sebagai cerita bersambung di harian Suara Merdeka, boleh jadi imajinasi belaka.</p>
<p>Eksekusi Widarta menjadi menarik karena inilah mungkin satu-satunya eksekusi mati yang diputuskan oleh partai politik di nusantara, bukan oleh instrumen peradilan negara. Sosok Widarta sendiri kian membetot dialah yang mengajak DN Aidit bergabung dengan PKI, tokoh yang semenjak tahun 1965 namanya disebut bak danyang penebar teror.</p>
<p>Subandi Widarta dilahirkan sekitar tahun 1913 di Kediri. Tak banyak yang tahu sejarah masa mudanya, sampai ketika ia menjadi sekretaris Geraf (Gerakan Rakyat AntiFasis) yang dikomandani Amir Sjarifuddin. Geraf merupakan buah kolaborasi dari aktivis PKI Ilegal dengan kekuatan radikal antiJepang lainnya seperti kelompok KH Mustofa dari Singaparna dan juga dr Tjipto Mangoenkusumo.</p>
<p>Tertangkapnya Amir oleh Kempetai pada Februari 1943, membuat Geraf ikut hancur. PKI Ilegal pun akhirnya sendirian tanpa aliansi. Itupun mereka dilanda perpecahan. Kubu Soekardiman mengklaim mendapat mandat sebagai penerus Amir. Karenanya, mereka memegang sisa dana 25.000 gulden yang dulu diberikan Belanda kepada Amir. Sementara itu, di sisi yang lain Widarta pun mengklaim diri sebagai pemimpin PKI.</p>
<p>Masing-masing  bergerak di bawah tanah dan sama-sama punya pengikut. Sementara Soekardiman banyak beraksi dengan menerbitkan stensilan &#8216;Menara Merah,&#8217; Widarta yang digambarkan sebagai sosok yang tenang ramah dan memperlakukan sama pada setiap orang, lebih asyik bergerak di lapangan antara Jakarta dan Surabaya. DN Aidit dan MH Lukman adalah dua pemuda hasil rekrutannya di tahun 1943.</p>
<p>Datangnya kemerdekaan dan dibebaskannya Amir dari penjara sedikit membawa rekonsiliasi. Namun ini tak lama. Widarta yang dikirim Amir (ketika itu menteri penerangan) ke Tegal untuk menetralisir Peristiwa Tiga Daerah (akhir 1945) justru mengambil kebijakan yang bertolak belakang dengan keinginan Amir. Amir malah menuduhnya memperkeruh revolusi sosial lokal tersebut sehingga menjadi berdarah-darah.</p>
<p>Kemurkaan Amir ditunjukkan dengan membiarkan Widarta selama hampir setahun penuh meringkuk di Penjara Batang karena peristiwa Tiga Daerah tersebut. Widarta sendiri pun sama kesalnya. Dari dalam bui, ia berbalik beroposisi pada Amir. Keputusan Amir yang tak segera menampilkan wajah PKI sesungguhnya menjadi amunisi kritik Widarta terhadap PKI Ilegal di bawah kepemimpinan Amir. Lebih jauh, Widarta pun menuntut diadakannya &#8216;Kongres Luar Biasa&#8217; untuk menjernihkan garis kebijakan partai.</p>
<p>Amir rupanya gerah dengan persengketaan ini. Saat Widarta datang untuk menyampaikan tuntutannya,  ia justru menangkapnya kembali dan membuat mahkamah partai <em>&#8216;in absentia&#8217; </em>yang akhirnya memutuskan menjatuhkan vonis hukuman mati kepada Widarta. Widarta tewas dieksekusi dalam sebuah kandang kuda di Pantai Parangtritis, akhir tahun 1947.<em> - Seolah kejatuhan buah karma, setahun kemudian, Amir harus menghadapi regu tembak di Lalung, Karanganyar.</em></p>
<p>Jasad Widarta dikebumikan diam-diam. Kepada istri dan 3 anaknya, dibilang Widarta hilang tenggelam dalam kecelakaan kapal di dekat Pulau Onrust, Jakarta. Toh akhirnya, rahasia eksekusi mati Widarta meruyak juga. Muso yang datang pada pertengahan 1948, mengecam keputusan partai men-sukabumikan Widarta. Muso juga mengambil alih pimpinan partai, sampai kemudian tertumpas habis dalam Peristiwa Madiun 1948.</p>
<p>Tahun 1952, PKI baru pun timbul di bawah pimpinan empat serangkai, DN Aidit, MH Lukman, Nyoto dan Sudisman. Aidit merehabilitasi nama Widarta dan menanggung biaya penghidupan istri Widarta beserta 3 anaknya.  Namun tetap saja dimana jasad Widarta dikuburkan, tak pernah diketahui hingga sekarang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anusapati.com/?feed=rss2&amp;p=206</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Adam &#8216;Molak Malik&#8217;</title>
		<link>http://anusapati.com/?p=194</link>
		<comments>http://anusapati.com/?p=194#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2008 11:56:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anusapati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[Adam Malik]]></category>

		<category><![CDATA[BPS]]></category>

		<category><![CDATA[CIA]]></category>

		<category><![CDATA[Oportunis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anusapati.com/?p=194</guid>
		<description><![CDATA[Pendekatan karakteristik terhadap Adam Malik tidak menyertakan satu hal, yakni sikap oportunistik Adam Malik. “Bagi lawan-lawan politiknja, Malik biasa di sebut sebagai "dam sing molak malik" - artinja Adam jang selalu berubah angin.” (Tempo, 2 Oktober 1971).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keriuhan soal Adam Malik yang katanya agen CIA sebenarnya menggelitik tangan untuk ikut segera menulisnya tempo hari. Tapi saya pikir nanti sajalah, saya ingin lihat dulu laporan media-media terkemuka soal rumor itu. Dan benar saja, salah satu patron media kita, TEMPO mengupasnya pada minggu berikutnya (1 Desember 2008).</p>
<p>Isinya bisa Anda baca sendiri. Tapi sebagian besar sama seperti prediksi saya, tak akan ada banyak hal yang bisa dituliskan. Saya sih maklum saja, toh menyibak tabir kegiatan spionase sama sulitnya dengan memisahkan butir garam dari pasir.</p>
<p>Tapi saya sedikit menyayangkan satu hal yang dilewatkan Tempo. Pendekatan karakteristik terhadap Adam Malik tidak menyertakan satu hal, yakni sikap oportunistik Adam Malik. Padahal Tempo pernah menuliskan perihal ini. Tulisan-tulisan Tempo di tahun 1971 – justru saat Adam Malik masih hidup dan jadi menlu – sering mengutip perkataan beberapa rekan Adam Malik yang mempelesetkan namanya menjadi Adam Molak Malik.</p>
<p>“Bagi lawan-lawan politiknja, Malik biasa di sebut sebagai &#8220;dam sing molak malik&#8221; - artinja Adam jang selalu berubah angin.” (Tempo, 2 Oktober 1971).</p>
<p>Tentu bukan tanpa sebab, &#8217;sapaan&#8217; itu muncul. Kelincahan Adam Malik bergerak dari jaman ke jaman tapi tetap terus berada di lingkaran tertinggi politik adalah seni yang dikecam sekaligus dikagumi lawan dan kawannya. Kelihaiannya membuat Adam tak pernah benar-benar jatuh selama 50 tahun karir politiknya.</p>
<p>Berikut beberapa catatan sejarah yang mungkin memperlihatkan kelihaian Adam Malik berakrobat:</p>
<p>1. Tahun 1942. Menjelang datangnya pendudukan Jepang, Adam Malik adalah salah satu pimpinan Gerakan rakyat Indonesia (Gerindo). Gerindo ini adalah sebuah partai yang berisi kelompok radikal kiri. Sebagian di-antaranya adalah anggota PKI Ilegal seperti Amir Sjarifuddin dan Wikana, sebagian lagi nasionalis radikal seperti AK Gani da Mohammad Yamin. Namun satu yang pasti, Gerindo antifasis. Begitu Jepang menguasai Indonesia, Amir dan banyak anggota Gerindo lainnya ditangkap Kempetai (yang lolos, bergerak di bawah tanah), sementara Adam Malik justru bekerja di kantor berita bentukan Jepang, Domei (mengambilalih KB Antara yang didirikan Adam Malik).</p>
<p>2. Tahun 1966. Begitu terjadinya Gestok yang disusul gerak cepat pembasmiannya oleh Mayjen Soeharto, Adam Malik tampil di depan memimpin Kesatuan Aksi Pengganyangan (KAP) Gestapu – yang notabene akirnya menjadi salah satu trisula yang meruntuhkan Soekarno. Padahal 2 tahun sebelumnya, Adam Malik bersama-sama BM Diah dan Waperdam III Chaerul Saleh (Sesama Murba) adalah pendiri Barisan Pendukung Sukarnoisme (BPS), sebuah organ pendukung Soekarno namun minus komunisme.</p>
<p>3. Tahun 1966. Saat Adam Malik secara mengejutkan menanggalkan baju Partai Murba yang sudah ia kenakan selama 19 tahun. Ia mundur karena Murba kukuh menolak penyertaan modal asing sebagai landasan pembangunan. Tahun 1970, Adam Malik ternyata sudah turun menjadi juru kampanye Golkar yang menjadikan modal asing sebagai sokoguru pembangunan nasional.</p>
<p>4. Tahun 1967. Umar Kayam dan Marsilam Simandjuntak pernah merasakan sikap berbalik arah Adam Malik. Di tahun 1967, dua sekawan itu bersama Adnan Buyung Nasution menggagas pendirian partai yang modern. Adam Malik yang mendengar kabar itu lalu mendekati mereka bertiga, namun begitu resistensi dari luar begitu kuat, Adam Malik langsung menarik diri. “Dia hanya mau ikut kalau jelas-jelas menguntungkan,” kata Marsilam (Tempo, 29 April 2002)</p>
<p>Namun apakah catatan lincah ber-manuver tersebut mengartikan Adam Malik seorang agen CIA? Tentu tidak se-naif itu jawabannya. Seperti sudah dikatakan, tabir intelijen tak bisa sesederhana itu. Bahkan mainan puzzle paling rumit pun boleh jadi lebih mudah untuk dipecahkan&#8230;.</p>
<p><em>&#8230;..omong-omong Laporan Tempo soal Sjam kamaruzzaman November 2008, mengesankan&#8230;.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anusapati.com/?feed=rss2&amp;p=194</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tigabelas Brutus</title>
		<link>http://anusapati.com/?p=170</link>
		<comments>http://anusapati.com/?p=170#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Nov 2008 16:53:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anusapati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[Angkatan 66]]></category>

		<category><![CDATA[DPR-GR]]></category>

		<category><![CDATA[Parlemen]]></category>

		<category><![CDATA[Wakil mahasiswa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anusapati.com/?p=170</guid>
		<description><![CDATA[Soe Hok Gie begitu geram ketika beberapa aktivis mahasiswa menerima tawaran kursi anggota DPR-GR. Bagi Gie, mereka telah mengkhianati perjuangan mahasiswa. Namun, menemukan 13 mahasiswa yang 'membelot' itu di internet ternyata tak mudah. Karenanya, artikel ini bermaksud menuliskannya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sedang membaca buku lama yang pernah menghebohkan, <em>Siapa Menabur Angin akan Menuai Badai</em> karya Soegiarso Soerojo ketika saya mendapati gambar yang menarik. Di situ terpampang foto aktivis mahasiswa 1966 yang baru saja dilantik menjadi anggota DPR-GR pada tahun 1967. Mereka semua mejeng dengan wajah sumringah.</p>
<p>Celakanya gambar itu ternyata hanya memuat 9 mahasiswa. Padahal dari beberapa tulisan yang pernah saya baca, mestinya ada <a href="http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0508/06/Bentara/1946531.htm" onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outbound/article/www2.kompas.com');" target="_blank">13 mahasiswa </a>yang masuk parlemen. Saya coba cari di internet sisanya dan sialannya&#8230;sudah 3 hari mencari, tak ada satu pun site yang punya daftar ini. Tapi tak masalah, hal itu justru memberikan dorongan untuk menuliskannya, semata untuk membantu mengarsipkannya di dunia maya.</p>
<p>Jadilah, saya buat artikel ini. Judulnya <em>Tigabelas Brutus *),</em> pemilihannya mutlak mengoper binokular yang dipakai Soe Hok Gie. Legenda aktivis mahasiswa itu memang miring dalam memandang polah tingkah rekan-rekan aktivis mahasiswa 1966 yang tergiur madu kekuasaan. Ia menilai kelompok 13 itu sebagai pengkhianat perjuangan mahasiswa 1966.</p>
<p>&#8220;Sebagian dari pemimpin-pemimpin KAMI adalah maling juga. Mereka korupsi, mereka berebut kursi, ribut-ribut pesan mobil dan tukang kecap pula.&#8221;**)</p>
<p>Lain waktu, Hok Gie berucap. &#8220;Umur mereka rata-rata mendekati 30 tahun dan telah berkali-kali tak naik kelas karena jarang kuliah. Mereka bukan lagi mahasiswa yang berpolitik, tetapi politisi yang punya kartu mahasiswa.&#8221; Hok Gie memang menolak perwakilan mahasiswa masuk menjadi anggota DPR-GR. Baginya, peran politik mahasiswa harusnya bersifat situasional, bukan permanen.</p>
<p>Tentu saja, streotipe dari Hok Gie ini punya tandingan suara yang berseberangan. Salah satu &#8216;pembelaan&#8217; dari kubu yang didakwa oleh Hok Gie adalah kehadiran mereka di parlemen demi mengimbangi kekuatan Orde Lama pro Soekarno yang katanya masih dominan di parlemen. (Saya sendiri tidak tahu apakah suara 13 orang cukup berarti untuk mengubah komposisi).</p>
<p>Tapi toh, bagi Gie itu bukan dalih. Dalam beberapa tulisannya, Hok Gie masih saja rajin mengkritisi golongan ini. Ia pernah bercerita bagaimana salah seorang legislator tersebut saat berada di kampus terpaksa lari lintang pukang meninggalkan mobil kreditannya (fasilitas sebagai anggota parlemen) karena dikejar-kejar mahasiswa yang geram oleh kelakuannya.</p>
<p>Dan entah karena hal itu atau karena apa, beberapa di antara 13 mahasiswa itu tak cukup mulus berkarir di parlemen. Satu tahun setelah pelantikan yang dilakukan Februari 1967, beberapa di antaranya di-recall alias mengalami pergantian dengan paksa. Sementara sebagian lain - juga entah karena apa - masih duduk manis di bangku DPR-GR sampai masa jabatannya usai.</p>
<p>Sungguh pun begitu, di sisi lain, kesebalan Hok Gie pada mereka tak juga surut, bahkan hal terakhir yang dilakukan Gie di Jakarta sebelum menjemput maut di Gunung Semeru (1969) adalah mengirim bedak untuk eks rekan-rekannya di parlemen itu dengan ucapan agar mereka bisa berdandan cantik di muka rezim baru. Sebuah lelucon hitam. Ia masih menyimpan kecewa hingga ajal menjemputnya.</p>
<p>Baiklah, abaikan saja polemik soal itu, toh masing-masing orang punya kacamata yang berbeda. Jadi, cukup bahas saja fakta yang sudah ada. Berikut adalah list ke-13 mahasiswa tersebut. Eh, bukan 13 <em>ding</em> namun  yang saya dapat dari sebuah buku ***) justru ada 14 orang! Ini data yang berbeda dengan banyak literatur lainnya baik buku atau suratkabar. Mereka adalah;</p>
<p><strong>1. Sofyan Wanandi (Liem Bian Koen)</strong>. Presidium KAMI Pusat, Mahasiswa FE UI. Karirnya di parlemen berlanjut di MPR. Di luar itu, Sofyan juga diajak kongsi untuk mengurus bisnis tentara yang diperolehnya karena kedekatannya dengan Sudjono Humardani. Bisnisnya dimulai dari mengurus PT Dharma Kencana Sakti dan kini Sofjan memiliki Grup usaha sendiri, Gemala.</p>
<p><strong>2. Cosmas Batubara.</strong> Ketua PMKRI, Mahasiswa Sekolah Tinggi Publisistik. Cosmas bertahan 10 tahun di parlemen, sampai akhirnya Soeharto meliriknya untuk dijadikan salah satu menterinya yang juga bertahan lama. Namanya menghilang seiring runtuhnya kekuasaan Soeharto.</p>
<p><strong>3. David Napitupulu.</strong> Ketua Mapancas, mahasiswa STIAN. Mapancas berarti Mahasiswa Pancasila, sebuah gerakan kampus yang berafiliasi dengan partai militer, IPKI. Sejak duduk di parlemen pada tahun 1967, lebih dari dua dasawarsa berikutnya, ia tak pernah absen duduk di DPR mewakili Golkar.</p>
<p><strong>4. Nono Anwar Makarim.</strong> Eks Pemred Harian KAMI, mahasiswa FH UI. Ia menjadi anggota parlemen hanya sampai tahun 1971. Setelah itu masuk LP3ES, bergabung dengan Law Firm Adnan Buyung dan akhirnya mendirikan Law Firm Makarim &amp; Tairas sekaligus menjadi dosen pascasarjana UI hingga sekarang.</p>
<p><strong>5. Yozar Anwar. </strong>Pimpinan IMADA, mahasiswa FE UI. Seperti Nono, Jozar hanya sampai tahun 1971 saja di parlemen. Setelah itu, ia bergabung sebagai wartawan Pedoman yang dipimpin Rosihan Anwar. Setelah Pedoman dibreidel, di tahun 1980-an Yozar memimpin majalah wanita, Pertiwi. Yozar wafat 1999.<br />
<strong><br />
6. Fahmi Idris.</strong> Pimpinan HMI, Mahasiswa FE UI. Fahmi terbilang paling awet berputar di tangga kekuasaan. Bahkan sampai sekarang pun ia masih menjabat sebagai menteri. Sebenarnya Fahmi hanya sampai tahun 1968 di parlemen. Ia keluar karena di-recall. Setelah itu ia banyak berniaga ternasuk bergabung dengan Krama Yudha Tiga Berlian. Pemilik Grup Kodel ini baru kembali lagi berpolitik tahun 1984 dengan bergabung pada Golkar.</p>
<p><strong>7. Mar&#8217;ie Muhammad.</strong> Ketua HMI, Mahasiswa FE UI. Selepas menjadi anggota parlemen, ia membangun karir di birokrasi. Dianggap sukses saat menjadi dirjen pajak, Mar&#8217;ie promosi menjadi menteri keuangan di tahun 1993. Ia memiliki reputasi sebagai Mr Clean. Saat ini lebih banyak berkiprah di bidang sosial.</p>
<p><strong>8. Muhammad Zamroni.</strong> Ketua PMII, mahasiswa IAIN Syarif Hidayatullah. Zamroni juga awet sebagai anggota DPR sejak masuk pada tahun 1967 (setidaknya hingga akhir 1980-an). Hanya bedanya, ia tak berdiri di bawah naungan Golkar, melainkan ikut masuk PPP.</p>
<p><strong>9.</strong> <strong>Slamet Sukirnanto.</strong> Ketua Presidium KAMI Pusat, mahasiswa FS UI. Karir Slamet di parlemen terbilang singkat. Ketika masa jabatan habis, ia mengasingkan diri dari dunia politik dan memilih total menekuni dunia sastra. Ia menerbitkan banyak puisi dan aktif di Dewan Kesenian Jakarta serta Muhammadiyah. Ia baru muncul lagi di pentas politik, meski secara tak langsung, saat ikut membidani berdirinya ICMI di tahun 1991.</p>
<p><strong>10. </strong><strong>Soegeng Sarjadi.</strong> Ketua HMI Bandung, mahasiswa Publisistik Unpad. Soegeng hanya mampu bertahan satu tahun di parlemen sebelum ahirnya di-recall. Sempat luntang lantung selama 2 tahun, Soegeng terdampar di PT Krama Yudha Tiga Berlian. Lalu bersama Fahmi Idris, ia mendirikan Kodel Grup namun di tahun 1980, ia melepaskan diri dengan membentuk PT Parama Bina Tani. Kini ia dikenal melalui LSM Politik, Soegeng Sarjadi Syndicate.</p>
<p><strong>11. Firdaus Wadjdi.</strong> Aktivis HMI, mahasiswa FE UI. Sama seperti Fahmi Idris dan Soegeng Sarjadi, Firdaus pun di-recall dari kursi DPR tahun 1968. Setelah itu, ia banyak berwirausaha di bidang perkapalan. Firdaus sempat kembali ke kursi MPR pada tahun 1982-1987. Putranya, Muhammad Lutfie kini menjadi Kepala BKPM.</p>
<p><strong>12. Johnny Simandjuntak</strong>. Perjalanan hidup tokoh yang satu ini belum saya temukan.</p>
<p><strong>13. Tengku Zulfadli. </strong>Idem di atas</p>
<p><strong>14. Salam Sumangat.</strong> Idem di atas, namun dalam list anggota DPRD DKI 1997 sempat ada anggota dewan bernama serupa.</p>
<p>Di luar nama itu, beberapa golongan mahasiswa juga masuk menjadi anggota DPR-GR atau MPRS (saja). Namun agaknya mereka tidak duduk dalam kapasitas mewakili mahasiswa. Mereka di antaranya:</p>
<p><strong>RAF Mully.</strong> Ketua KAMI Bandung, mahasiswa ITB. Ia aktivis yang dikenal punya idealis kokoh, karenanya agak mengherankan saat Mully menerima kursi anggota MPRS. Tapi ternyata ia memang tak mampu bertahan lama. Tak sampai setahun, masih di tahun 1967, Mully mengirim surat ke presiden memohon pengunduran dirinya. Lepas dari DPR, ia menjadi karyawan biasa di sebuah perusahaan kayu di Surabaya. Menariknya, sampai dengan akhir hidupnya RAF Mully ternyata WNA Belanda.</p>
<p><strong>Sabam Sirait.</strong> Aktivis GMKI, Mahasiswa FH UI. Saat dilantik menjadi anggota DPR-GR, sudah 7 tahun menghuni kampus Salemba. Ia tak lulus-lulus karena waktunya lebih banyak untuk berorganisasi. Ia masuk bukan sebagai wakil mahasiswa namun wakil Karya Pembangunan. Setelah lepas dari parlemen tahun 1971, dua tahun kemudian, ia kembali masuk setelah merapatkan diri ke PDI dan lalu PDIP.</p>
<p><em>*) Brutus adalah sosok pengkhianat dalam sejarah emporium Romawi, dimana ia menohok Julius Caesar.<br />
**) Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani, Dr John Maxwell, Grafiti Pers, 2001<br />
***) Ahmaddani G. Martha, Christianto Wibisono, Yozar Anwar: Pemuda Indonesia dalam Dimensi Sejarah Perjuangan Bangsa</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anusapati.com/?feed=rss2&amp;p=170</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Konsensus Abal-Abal</title>
		<link>http://anusapati.com/?p=160</link>
		<comments>http://anusapati.com/?p=160#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Nov 2008 10:05:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anusapati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[Konsensus]]></category>

		<category><![CDATA[Nasution]]></category>

		<category><![CDATA[Pangkostrad]]></category>

		<category><![CDATA[Soeharto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anusapati.com/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[Soeharto dengan cepat mengambil alih komando TNI AD begitu Ahmad Yani menghilang dalam peristiwa Gestok. Dasarnya adalah tradisi dalam tubuh AD dimana bila KSAD berhalangan, maka pangkostrad lah yang bertindak mewakilinya. Masalahnya benarkah konsensus itu ada?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Soeharto menjadi jenderal paling beruntung di tahun 1965. Karir militernya terselamatkan dalam sekejap. Hilangnya Menpangad Letjen Ahmad Yani memberikannya jalan lapang untuk menguasai TNI AD tanpa melalui proses legal. Dasarnya hanya konsensus, bila Menpangad berhalangan maka Pangkostrad-lah yang akan menggantikannya untuk sementara.</p>
<p>Sebelum itu, karir Soeharto dianggap sudah mentok. Meski kedudukannya cukup prestisius - Pangkostrad - Soeharto bukanlah orang yang diperhitungkan banyak orang bisa menapak lebih tinggi. Ia tidak berteman dekat dengan Ahmad Yani dan ia pun bukan jenderal favorit Soekarno. Jabatan Pangkostrad yang disodorkan lebih karena penghormatannya sebagai jenderal senior dan bekas pahlawan Trikora.</p>
<p>Terkait hal ini, ada sebuah cerita saat KSAD Nasution mencari penggantinya di tahun 1962. Awalnya, ketika itu, Nasution hanya menyodorkan Wakasad Letjen Gatot Subroto. Tapi usul ini langsung ditolak  karena Soekarno memang tak pernah menyukai Gatot sejak era revolusi dulu. Presiden lalu meminta nama tambahan. Disodorkanlah nama 10 jenderal, Soeharto ada di nomor pamungkas. (versi lain, hanya 3 nama).</p>
<p>Soekarno yang meski tak dekat-dekat amat dengan Soeharto tapi tahu reputasi tempurnya pun karuan menjadi heran. Mengapa seorang jenderal senior pahlawan serangan umum 1949 dan pembebasan Papua Barat hanya ditaruh di nomor sandal? Nasution lekas menjawabnya itu karena Soeharto adalah jenderal penyelundup (Tentu ini mengacu saat Soeharto menjadi pangdam Diponegoro tahun 1959).</p>
<p>Jadilah, Ahmad Yani yang jadi nomor satu dalam list usulan Nasution yang diangkat sebagai KSAD baru. Penunjukkannya terbilang berani meski tidak mengejutkan. Berani, karena dari sisi umur, Yani melompati banyak jenderal lainnya, termasuk Soeharto (Ahmad Yani dilahirkan Juni 1922, sementara Soeharto setahun lebih tua). Tak mengejutkan karena kecerdasan dan reputasi Yani memang tengah menjulang saat itu.</p>
<p>Tapi begitulah, dengan posisi <em>underdog </em>seperti itu, hilangnya Ahmad Yani di malam 1 Oktober 1965, seperti berkah tersembunyi bagi Soeharto. Ia bisa segera muncul karena sebagaimana yang disebut dalam banyak buku sejarah, ada konsensus bilamana KSAD berhalangan maka pangkostrad lah yang bertindak mewakilinya. (versi lain menyebut, <em>acting</em> KSAD adalah jenderal paling senior yang masih aktif).</p>
<p>Selama ini sih, tak banyak orang yang mendalami soal ini. Konsensus yang dijadikan azimat Soeharto untuk mengambil alih komando AD pasca Gestok dianggap sebuah kelaziman mengingat posisi Wakasad ketika itu memang tengah lowong. Tidak ada lagi Wakasad semenjak meninggalnya Jenderal Gatot Subroto pada tahun 1962.*) Untuk tugas kesehariannya, Menpangad dibantu oleh 3 deputi dan 7 asisten.</p>
<p>Saya pun semula tak berniat mengkritisi-nya, sampai saya membaca TEMPO edisi 7 Oktober 1978 yang memuat wawancara dengan Letjen Sarwo Edhi Wibowo. Mertua SBY itu bercerita bahwa ia tahu kepastian Gestok pertama kali dari Letkol Herman Sarens Sudiro yang diutus Soeharto mengantar sepucuk surat untuknya. Herman ketika itu datang panser dan berpakaian tempur lengkap.</p>
<p>Surat itu pendek tapi jelas. Kolonel Sarwo Edhi diminta datang ke Kostrad lengkap dengan pasukan RPKAD yang dipimpinnya. Apa yang dipikirkan Sarwo Edhi menerima surat itu? <em>Pertama</em>, ia takut perintah itu hanya jebakan - mengingat saat itu sukar menentukan siapa lawan siapa kawan. <em>Kedua,</em> ia merasa jika KSAD tidak ada maka yang berhak mewakilinya bukanlah Soeharto.</p>
<p>&#8220;Waktu itu perkiraan saya, sesudah Pak Yani, mestinya yang ambil pimpinan komando adalah deputi-deputi yang ada di SUAD. Deputi Operasi, yaitu Pak Mursid.**) Saya minta petunjuk Pak Mursid. Datanglah utusan saya yang menemui Pak Mursid. Pesan Pak Mursid untuk sementara, memang benar, bahwa pimpinan AD dipegang oleh Pak Harto. Karena itu diminta agar RPKAD menghubungi Kostrad. Oke kalau begitu.&#8221;***)</p>
<p>Nah, berarti tak semua pejabat militer tahu tentang konsensus tersebut. Apa mungkin seorang Sarwo Edhi yang walau baru berpangkat kolonel alpa untuk mengetahui konsensus tersebut? Mengingat kedudukannya sebagai kepala pasukan pemukul paling elite yang dimiliki TNI AD. Mengapa orang pertama yang muncul di kepalanya adalah Mayjen Mursid dan bukan Soeharto.</p>
<p>Pertanyaan akan makin bertambah bilamana Anda membaca biografi Jenderal Soemitro. Dalam sebuah pertemuan dengan Nasution, suatu kali Soemitro yang saat Gestok menjabat Pangdam Mulawarman pernah mengungkapkan keheranannya, kenapa pasca Yani terbunuh, selaku jenderal paling senior Nasution tak juga muncul memimpin AD mengatasi keadaan dan menghadapi Soekarno.</p>
<p>Sayang, Soemitro tak menyertakan jawaban Nasution. Tinggal saya yang bertanya-tanya, benarkah konsensus itu memang ada?</p>
<p><em>(Saya sudah mencoba men-trace kegiatan kunjungan Ahmad Yani ke luar negeri dalam kurun waktu 1963-1965. Kalau ada, benarkah Soeharto saat itu bertindak mewakili KSAD di dalam negeri. Sayang saya belum menemukannya)</em></p>
<p>Prolog: Sadar secara hukum posisinya lemah, Soeharto kemudian menciptakan kondisi yang akhirnya &#8216;memaksa&#8217; Soekarno menerbitkan Supersemar.</p>
<p>*) Salah satu versi menyebut pejabat wakasad pasca Gatot Subroto adalah Kolonel Bambang Supeno. Namun data ini agak membingungkan karena jika benar wakasad kenapa Bambang hanya berpangkat kolonel.  Bahkan lebih rendah 2 level dibandingkan pangkat deputi atau asisten Menpangad.</p>
<p>**) Mursid adalah Deputi I Menpangad. Ia satu-satunya Deputi yang tersisa. Dua deputi lainnya, Deputi III MT Haryono dan Deputi II Suprapto ikut menjadi korban Gestok. Sementara dari 7 Asisten Menpangad masih tersisa 5 orang. Asisten II Mayjen Djamin Gintings, Asisten III Mayjen Pranoto Reksosamodra, Asisten V Mayjen Soeprapto Soekowati, Asisten VI Brigjen Soedjono, Asisten VII Brigjen Alamsjah Prawiranegara.</p>
<p>***) Ada alternatif hipotesa mengapa Mursid menjawab seperti itu. <strong>Pertama, </strong>karena memang konsensus itu ada. <strong>Kedua,</strong> ia sungkan dengan Soeharto mengingat Soeharto jenderal senior, dan ia pernah menjadi bawahan Soeharto dalam Komanda Mandala. <strong>Ketiga,</strong> Mursid memang sudah kehilangan inisiatif.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anusapati.com/?feed=rss2&amp;p=160</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Alumni KMA Breda</title>
		<link>http://anusapati.com/?p=132</link>
		<comments>http://anusapati.com/?p=132#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Nov 2008 01:10:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anusapati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[KMA Breda]]></category>

		<category><![CDATA[KNIL]]></category>

		<category><![CDATA[Soeria Santoso]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anusapati.com/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[Konon ada 21 orang pribumi yang pernah mengecap pendidikan KMA Breda antara tahun 1921 sampai dengan 1939. Namun agaknya, jumlah yang benar lebih dari itu. Sejarah masuknya pribumi ke akademi militer Belanda di Breda dimulai oleh J.E Lanjouw pada tahun 1915.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu buah dari politik etis adalah dibukanya pintu pendidikan militer di KMA Breda untuk segelintir pribumi Hindia Belanda. Mengapa segelintir? Karena untuk masuk kesana memang bukan sembarang orang. Tubuh kuat dan otak cerdas tidak cukup, dalam diri calon perwira KNIL tamatan Breda harus mengalir darah biru, minimal anak seorang wedana.</p>
<p>Sebuah <a title="Situs Negara Lho" href="http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id/ministers/popup_biodata_pejabat.asp?id=115" onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outbound/article/kepustakaan-presiden.pnri.go.id');" target="_blank">catatan </a>menyebutkan, pribumi pertama yang menjadi kadet KNIL adalah Sultan Hamid Alkadrie dari Pontianak. Ia lulus dari KMA Breda tahun 1936. Tapi saya terus terang meragukan catatan ini, karena buku <em>Siapa Dia? Perwira Tinggi TNI</em> karya Harsja  W Bahctiar jelas menyebut dilantiknya R Sardjono Soeria Santoso sebagai letnan II KNIL adalah tahun 1921. Tapi Soeria Santoso ternyata bukan yang pertama. Sebelum dia, ada pribumi Maluku bernama L.E. Lanjouw yang mendaftar KMA Breda. Lanjouw dilantik tahun 1918.</p>
<p>Tentang berapa jumlah alumni akmil prestius tersebut, sampai saat ini saya belum menemukan data pasti. <a href="http://peusangan.wordpress.com/2008/04/21/sejarah-peusangan-episod-6/" onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outbound/article/peusangan.wordpress.com');" target="_blank">Data yang ditulis rekan Syamaun Peusangan</a> yang mengutip buku Harry Poeze; <em>Di Negeri Penjajah </em>menyebut ada 21 pribumi yang pernah mengenyam KMA Breda. Mereka masuk antara setelah Perang Dunia II hingga jatuhnya tanah Belanda ke tangan Jerman. Namun dari 21 orang tersebut 3 di antaranya batal dilantik karena ketahuan beraktivitas politik selama di Belanda.</p>
<p>Taruhlah data itu benar, siapa saja mereka? Letjen GPH Djatikusumo hanya mampu mengingatnya sampai 12 orang, seperti yang ditulisnya dalam bunga rampai <em>PETA Tentara Sukarela Pembela Tanah Air</em> yang diterbitkan 1996. Mereka adalah:</p>
<p>1. R Soeria Santoso (lulus 1921. Terakhir kolonel KNIL, menjadi WN Belanda)<br />
2. GPH Soerjobroto (lulus 1929. Terakhir Mayor kavaleri KNIL)<br />
3. R Poerbonagoro (lulus ? Terakhir Mayjen TNI, sekmil pertama presiden RI)<br />
4. R Soewardi (lulus 1930. Terakhir Mayjen TNI, Gubernur akademi militer yang pertama)<br />
5. R Soetopo (lulus 1930. Terakhir wakil panglima komandemen Sumatera, 1947)<br />
6. R Soedibjo (lulus 1930. Terakhir Jenderal mayor TNI)<br />
7. R Samidjo (lulus? Terakhir Kolonel TNI)<br />
8. R Didi Kartasasmita (lulus 1935. Terakhir Mayjen TNI)<br />
9. R Hidajat Mertaatmadja (lulus 1934. Terakhir letjen TNI, menteri)<br />
10. Sultan Hamid Alkadrie II (lulus 1936. Terakhir Mayor KNIL, ajudan khusus Ratu Belanda)<br />
11. R Soeriadarma (lulus 1934. Terakhir KSAU Marsekal TNI, 1962)<br />
12. R Soerjo Soelarso (lulus 1939. Terakhir Mayjen TNI)</p>
<p>Jumlah ini tentu saja masih kurang. Sayang, saya tak bisa memastikan sisanya. Namun dalam beberapa buku atau memoar yang pernah saya baca, beberapa orang juga disebutkan alumnus KMA Breda. Mereka tidak termasuk di antara yang disebutkan oleh Djatikusumo. Mereka antara lain:</p>
<p>13. JE Lanjouw (lulus tahun 1918)<br />
14. R Soebijakto (lulus ? Mayor KNIL dan berganti nama menjadi Mansfeld - Namanya disebut TB Simatupang)<br />
15. R Wardiman (lulus 1931. Namanya disebut eks Breda dalam buku Yogya Benteng Proklamasi)<br />
16. J Kaseger (lulus ? Keturunan Manado, turut bertempur dalam PD I di Muluku bersama Didi Kartasasmita)<br />
17. R Poerbo Soemitro (lulus 1939)<br />
18. Rachman Mashjour (lulus ? Terakhir Brigjen TNI)</p>
<p>Jumlah sudah 18. Namun ternyata belum final. Di samping nama-nama di atas, masih ada lagi nama banyak perwira KNIL Pribumi yang dilantik menjadi letnan II dalam periode antara tahun 1921 sampai dengan 1939. Tapi mereka belum bisa dipastikan apakah alumni KMA Breda atau sekolah Perwira KNIL di Meester Cornelis, Batavia - seperti halnya Oerip Sumohardjo. Mereka antara lain:</p>
<p>19. R Soewardi Tjokrohatmodjo (lulus 1922)<br />
20. BPA Nanlohij (lulus 1922)<br />
21. R Atmowardojo (lulus 1922)<br />
22. Dalingga (lulus 1922)<br />
23. R Wirjoko Wirjohoedojo (1923)<br />
24. R Sidhiono Djojopoespito (lulus 1925)<br />
25. M Bassa  (lulus 1925)<br />
26. R Partodarmojo (lulus 1926)<br />
27. R Poerwopernoto (lulus 1926)<br />
28. EA Latoeperisa (lulus 1926)<br />
29. R Wirohatmodjo (lulus 1926)<br />
30. R Hatmoperwoto (lulus 1928)<br />
31. M Nanlohij (lulus 1931)<br />
32. R Tirtohatmodjo (lulus 1935)<br />
33. R Harjodiprono (lulus 1935)</p>
<p>Daftar belum usai, masih banyak lagi tokoh-tokoh yang menyandang pangkat perwira KNIL hingga saat menyerahnya Belanda di Kalijati namun tak tercatat darimana kelulusannya. Bisa jadi mereka berasal dari KMA Breda mengingat darah kebangsawanan yang dimilikinya:</p>
<p>34. BRM Jartabitu (Saudara tiri Sultan HB IX. Terakhir Mayor KNIL)<br />
35. BRM Sungangusamsi (Saudarat tiri Sultan HB IX. Terakhir Kapten KNIL)<br />
36. R Soegondo (Mayor KNIL)<br />
37. R Abdulkadir Widjojoatmodjo (Putra bupati Pekalongan. Kolonel KNIL)<br />
38. R Sanjoto (Kapten KNIL 1937)<br />
39. R Soeratman (eks Panglima Komandemen TKR Jateng)<br />
40. R Soesalit (anak RA Kartini - namun data KNIL-nya sumir)<br />
Beberapa nama lain telah pensiun jauh sebelum kedatangan Jepang, termasuk Mayor Oerip Sumohardjo, Mayor AJ Kawilarang dan Kapten Bagoes Soemodilogo.</p>
<p>Begitulah, hanya data ini yang saya punya. Akan saya <em>update</em> jika saya menemukan data pastinya. Demikian pula, mengenai beberapa sosoknya yang menarik, seperti Soeria Santoso atau Abdulkadir Widjojoatmodjo - negosiator kubu Belanda dalam Renville - akan saya tulis di lain waktu.</p>
<p>Omong-omong, sebetulnya yang menggelitik benak saya adalah, di antara para perwira itu kira-kira mana yang menjadi inspirasi Romo Mangun untuk membangun karakter Kapten KNIL Brajabasuki yang menjadi ayah si tokoh utama Teto, dalam <em>Burung-Burung Manyar</em>&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anusapati.com/?feed=rss2&amp;p=132</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
