Adam ‘Molak Malik’
Keriuhan soal Adam Malik yang katanya agen CIA sebenarnya menggelitik tangan untuk ikut segera menulisnya tempo hari. Tapi saya pikir nanti sajalah, saya ingin lihat dulu laporan media-media terkemuka soal rumor itu. Dan benar saja, salah satu patron media kita, TEMPO mengupasnya pada minggu berikutnya (1 Desember 2008).
Isinya bisa Anda baca sendiri. Tapi sebagian besar sama seperti prediksi saya, tak akan ada banyak hal yang bisa dituliskan. Saya sih maklum saja, toh menyibak tabir kegiatan spionase sama sulitnya dengan memisahkan butir garam dari pasir.
Tapi saya sedikit menyayangkan satu hal yang dilewatkan Tempo. Pendekatan karakteristik terhadap Adam Malik tidak menyertakan satu hal, yakni sikap oportunistik Adam Malik. Padahal Tempo pernah menuliskan perihal ini. Tulisan-tulisan Tempo di tahun 1971 – justru saat Adam Malik masih hidup dan jadi menlu – sering mengutip perkataan beberapa rekan Adam Malik yang mempelesetkan namanya menjadi Adam Molak Malik.
“Bagi lawan-lawan politiknja, Malik biasa di sebut sebagai “dam sing molak malik” - artinja Adam jang selalu berubah angin.” (Tempo, 2 Oktober 1971).
Tentu bukan tanpa sebab, ’sapaan’ itu muncul. Kelincahan Adam Malik bergerak dari jaman ke jaman tapi tetap terus berada di lingkaran tertinggi politik adalah seni yang dikecam sekaligus dikagumi lawan dan kawannya. Kelihaiannya membuat Adam tak pernah benar-benar jatuh selama 50 tahun karir politiknya.
Berikut beberapa catatan sejarah yang mungkin memperlihatkan kelihaian Adam Malik berakrobat:
1. Tahun 1942. Menjelang datangnya pendudukan Jepang, Adam Malik adalah salah satu pimpinan Gerakan rakyat Indonesia (Gerindo). Gerindo ini adalah sebuah partai yang berisi kelompok radikal kiri. Sebagian di-antaranya adalah anggota PKI Ilegal seperti Amir Sjarifuddin dan Wikana, sebagian lagi nasionalis radikal seperti AK Gani da Mohammad Yamin. Namun satu yang pasti, Gerindo antifasis. Begitu Jepang menguasai Indonesia, Amir dan banyak anggota Gerindo lainnya ditangkap Kempetai (yang lolos, bergerak di bawah tanah), sementara Adam Malik justru bekerja di kantor berita bentukan Jepang, Domei (mengambilalih KB Antara yang didirikan Adam Malik).
2. Tahun 1966. Begitu terjadinya Gestok yang disusul gerak cepat pembasmiannya oleh Mayjen Soeharto, Adam Malik tampil di depan memimpin Kesatuan Aksi Pengganyangan (KAP) Gestapu – yang notabene akirnya menjadi salah satu trisula yang meruntuhkan Soekarno. Padahal 2 tahun sebelumnya, Adam Malik bersama-sama BM Diah dan Waperdam III Chaerul Saleh (Sesama Murba) adalah pendiri Barisan Pendukung Sukarnoisme (BPS), sebuah organ pendukung Soekarno namun minus komunisme.
3. Tahun 1966. Saat Adam Malik secara mengejutkan menanggalkan baju Partai Murba yang sudah ia kenakan selama 19 tahun. Ia mundur karena Murba kukuh menolak penyertaan modal asing sebagai landasan pembangunan. Tahun 1970, Adam Malik ternyata sudah turun menjadi juru kampanye Golkar yang menjadikan modal asing sebagai sokoguru pembangunan nasional.
4. Tahun 1967. Umar Kayam dan Marsilam Simandjuntak pernah merasakan sikap berbalik arah Adam Malik. Di tahun 1967, dua sekawan itu bersama Adnan Buyung Nasution menggagas pendirian partai yang modern. Adam Malik yang mendengar kabar itu lalu mendekati mereka bertiga, namun begitu resistensi dari luar begitu kuat, Adam Malik langsung menarik diri. “Dia hanya mau ikut kalau jelas-jelas menguntungkan,” kata Marsilam (Tempo, 29 April 2002)
Namun apakah catatan lincah ber-manuver tersebut mengartikan Adam Malik seorang agen CIA? Tentu tidak se-naif itu jawabannya. Seperti sudah dikatakan, tabir intelijen tak bisa sesederhana itu. Bahkan mainan puzzle paling rumit pun boleh jadi lebih mudah untuk dipecahkan….
…..omong-omong Laporan Tempo soal Sjam kamaruzzaman November 2008, mengesankan….
About this entry
You’re currently reading “Adam ‘Molak Malik’,” an entry on Anusapati.com
- Published:
- 12.09.08 / 11am
- Category:
- Artikel






22 Comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]