Parangtritis 1947
DOR!
Widarta limbung. Dari pinggang kirinya mengucur darah yang segera membasahi pantat dan paha, sebagian jatuh ke pasir membentuk gumpal-gumpal kental merah kehitaman. Sambil menahan nyeri yang tak terperi, Widarta terus berusaha berlari. Lalu lamat-lamat didengarnya derap kaki-kaki mendekat.
DOR!
Ombak berdebur. Widarta merasakan sebagian uratnya mengejang. Ia terkenang jaring-jaring ikan yang ditarik para nelayan di Pantai Pemalang. Angin berdesir. Widarta teringat istri dan anak-anaknya yang berkejaran di hamparan pasir.
Samar-samar terdengar seseorang berujar, “Sisakan sebutir buat saya, Cak!”
“Hah? Kamu mau bunuh diri?”
“Bukan. Saya ingin tahu rasanya menembak orang.”
DOR!
Widarta mendengar segarit jerit di sunyi langit. Seekor burung hitam melintas di angkasa, tak seorang pun melihatnya. Air, pasir, angin, daun-daun pandan-gemetar. Langit merah disepuh semburat cahaya fajar.
Sekelumit fragmen di atas adalah penggambaran sastrawan Sitok Srengenge mengenai akhir hidup Widarta, ketua salah satu faksi PKI Ilegal yang beroperasi di jaman pendudukan Jepang. Eksekusi itu sendiri benar adanya, sementara detailnya seperti yang ditulis Sitok dan pernah dimuat sebagai cerita bersambung di harian Suara Merdeka, boleh jadi imajinasi belaka.
Eksekusi Widarta menjadi menarik karena inilah mungkin satu-satunya eksekusi mati yang diputuskan oleh partai politik di nusantara, bukan oleh instrumen peradilan negara. Sosok Widarta sendiri kian membetot dialah yang mengajak DN Aidit bergabung dengan PKI, tokoh yang semenjak tahun 1965 namanya disebut bak danyang penebar teror.
Subandi Widarta dilahirkan sekitar tahun 1913 di Kediri. Tak banyak yang tahu sejarah masa mudanya, sampai ketika ia menjadi sekretaris Geraf (Gerakan Rakyat AntiFasis) yang dikomandani Amir Sjarifuddin. Geraf merupakan buah kolaborasi dari aktivis PKI Ilegal dengan kekuatan radikal antiJepang lainnya seperti kelompok KH Mustofa dari Singaparna dan juga dr Tjipto Mangoenkusumo.
Tertangkapnya Amir oleh Kempetai pada Februari 1943, membuat Geraf ikut hancur. PKI Ilegal pun akhirnya sendirian tanpa aliansi. Itupun mereka dilanda perpecahan. Kubu Soekardiman mengklaim mendapat mandat sebagai penerus Amir. Karenanya, mereka memegang sisa dana 25.000 gulden yang dulu diberikan Belanda kepada Amir. Sementara itu, di sisi yang lain Widarta pun mengklaim diri sebagai pemimpin PKI.
Masing-masing bergerak di bawah tanah dan sama-sama punya pengikut. Sementara Soekardiman banyak beraksi dengan menerbitkan stensilan ‘Menara Merah,’ Widarta yang digambarkan sebagai sosok yang tenang ramah dan memperlakukan sama pada setiap orang, lebih asyik bergerak di lapangan antara Jakarta dan Surabaya. DN Aidit dan MH Lukman adalah dua pemuda hasil rekrutannya di tahun 1943.
Datangnya kemerdekaan dan dibebaskannya Amir dari penjara sedikit membawa rekonsiliasi. Namun ini tak lama. Widarta yang dikirim Amir (ketika itu menteri penerangan) ke Tegal untuk menetralisir Peristiwa Tiga Daerah (akhir 1945) justru mengambil kebijakan yang bertolak belakang dengan keinginan Amir. Amir malah menuduhnya memperkeruh revolusi sosial lokal tersebut sehingga menjadi berdarah-darah.
Kemurkaan Amir ditunjukkan dengan membiarkan Widarta selama hampir setahun penuh meringkuk di Penjara Batang karena peristiwa Tiga Daerah tersebut. Widarta sendiri pun sama kesalnya. Dari dalam bui, ia berbalik beroposisi pada Amir. Keputusan Amir yang tak segera menampilkan wajah PKI sesungguhnya menjadi amunisi kritik Widarta terhadap PKI Ilegal di bawah kepemimpinan Amir. Lebih jauh, Widarta pun menuntut diadakannya ‘Kongres Luar Biasa’ untuk menjernihkan garis kebijakan partai.
Amir rupanya gerah dengan persengketaan ini. Saat Widarta datang untuk menyampaikan tuntutannya, ia justru menangkapnya kembali dan membuat mahkamah partai ‘in absentia’ yang akhirnya memutuskan menjatuhkan vonis hukuman mati kepada Widarta. Widarta tewas dieksekusi dalam sebuah kandang kuda di Pantai Parangtritis, akhir tahun 1947. - Seolah kejatuhan buah karma, setahun kemudian, Amir harus menghadapi regu tembak di Lalung, Karanganyar.
Jasad Widarta dikebumikan diam-diam. Kepada istri dan 3 anaknya, dibilang Widarta hilang tenggelam dalam kecelakaan kapal di dekat Pulau Onrust, Jakarta. Toh akhirnya, rahasia eksekusi mati Widarta meruyak juga. Muso yang datang pada pertengahan 1948, mengecam keputusan partai men-sukabumikan Widarta. Muso juga mengambil alih pimpinan partai, sampai kemudian tertumpas habis dalam Peristiwa Madiun 1948.
Tahun 1952, PKI baru pun timbul di bawah pimpinan empat serangkai, DN Aidit, MH Lukman, Nyoto dan Sudisman. Aidit merehabilitasi nama Widarta dan menanggung biaya penghidupan istri Widarta beserta 3 anaknya. Namun tetap saja dimana jasad Widarta dikuburkan, tak pernah diketahui hingga sekarang.
About this entry
You’re currently reading “Parangtritis 1947,” an entry on Anusapati.com
- Published:
- 12.22.08 / 11pm
- Category:
- Artikel






20 Comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]