Sepi
Soeharto mungkin pribadi yang kesepian. Ia tak pernah benar-benar punya kawan sejati. Ia selalu menjaga jarak dengan siapapun. Orang-orang terdekatnya tak pernah betul-betul diserahi kekuasaan yang berlipat ganda, sementara orang-orang dengan posisi paling strategis yang ditunjuknya tak pernah benar-benar ia percayai.
Kita tengok saja apa yang terjadi di sepanjang 32 tahun kekuasaannya. Tak usahlah bicara luas-luas, cukup pada sekup militer saja yang menjadi pondasi tahtanya. Dalam istilah Jenderal Soemitro, dikenal hanya 3 orang perwira militer yang disebutnya sebagai ‘lingkaran dalam’ Soeharto. Mereka ini adalah Jenderal Yoga Soegama, Letjen Ali Moertopo dan Mayjen Sudjono Humardani.
Ketiganya menjadi dekat dengan Soeharto, karena hubungan yang terpupuk lama sejak menjadi bawahan Soeharto semasa menjadi Kasdam Diponegoro di akhir tahun 1950-an. Hanya mereka bertiga yang bisa menyapa ‘Mas Harto’ dengan bahasa rumahan, dan hanya mereka bertiga pula yang bisa keluar masuk kediaman Soeharto kapan saja.
Tapi apa yang diberikan Soeharto kepada ketiganya? Ketiganya memang diberi jabatan srategis, namun tak pernah dalam posisi sebagai pemuncak karir dalam hirarki militer yang mestinya menjadi cita-cita semua tentara. Baik Yoga, Ali maupun Humardani tak ada satupun yang pernah menjadi panglima KSAD, apalagi Panglima ABRI (eranya Soeharto nama TNI diganti menjadi ABRI).
Yoga selama lebih dari dua dasawarsa terhenti sebagai bos intel. Ali dan Humardani, begitu posisi asisten pribadi (aspri) pasca Malari 1074 dibubarkan tak lagi punya jabatan mentereng. Hanya Ali yang sempat ‘terpakai’ sebagai menteri penerangan. Dari ketiganya pun, hanya Yoga yang beruntung karena diberi pangkat jenderal bintang empat. Selebihnya cukup pensiun dengan bintang dua.
Sebaliknya posisi-posisi strategis, seperti panglima ABRI, Panglima Kostrad dan Pangkopkamtib justru diserahkan pada orang-orang yang tak pernah dekat 100% dengan Soeharto. Pada posisi Panglima ABRI, sebut saja pasa Soeharto, jabatan diberikan pada Jenderal Panggabean dan Jenderal M Jusuf yang berasal dari luar Jawa. Seterusnya jabatan Panglima ABRI langsung dioper pada generasi pasca angkatan 45.
Pos Pangkostrad yang mampu menggerakkan pasukan juga tak pernah diberikan pada mantan anakbuah Soeharto dari Kodam Diponegoro. Soeharto mengangkat Jenderal Umar Wirahadikusuma sebagai penggantinya. Setelah itu ada nama Kemal Idris (Siliwangi), Wahono (Brawijaya), Makmun Murod (Sriwijaya), Poniman dan Himawan Sutanto (Siliwangi).
Lembaga super, Kopkamtib yang amat berkuasa sepanjang keberadaannya juga tak pernah dipasrahkan pada Yoga atapun Ali Moertopo. Tongkat estafet justru diberikan pada Panggabean dan seterusnya pada Jenderal Soemitro, orang Brawijaya yang notabene belum lama dikenal Soeharto. Dan selanjutnya kepada Laksamana Sudomo setelah sebelumnya sempat dipegang sendiri Soeharto pasca Malari 1974.
Yang perlu dicatat, orang-orang ‘Antah Berantah’ tadi meski memegang jabatan super, tak pernah benar-benar 100% dipercayai oleh Soeharto. Selalu ada grup lain yang menjadi peredam. Soeharto memainkan manajemen konflik yang tak berujung. Nyaris tak ada orang yang abadi untuk terus-menerus ada di sisinya.
Di sisi Soemitro ada Ali Moertopo dengan opsusnya. Soemitro langsung terpental begitu ia disebut-sebut orang terkuat nomor 2 di Indonesia (akhirnya berujung pada Malari). M Jusuf harus berbagi akses ke Soeharto dengan LB (Benny) Moerdani. Jusuf langsung terperam setelah popularitasnya di prajurit akar rumput membubung setinggi langit. Benny pun rontok tatkala perwira muda yang dimotori Prabowo Subianto (saat itu menantu Soeharto sendiri) menabuhkan isu keinginannya menjadi suksesor Soeharto.
Sementara itu sebagian dari perwira-perwira penting dari luar ‘ring 1′ Soeharto akhirnya betul-betul memperlihatkan jaraknya. Kemal Idris mmeilih beroposisi pada Soeharto dengan bergabung pada Petisi 50. Soemitro aktif ‘mengingatkan’ agar Soeharto tak lagi maju sebagai presiden, Himawan Susanto ikut meneken petisi yang meminta Soeharto mundur dari jabatannya.
Tidakkah Soeharto, pribadi yang sendiri? Ia tak pernah punya sahabat sejati yang ia percayai luar dalam. Mengangkat orang terdekatnya dalam posisi paling strategis, memberi peluang munculnya musuh dalams selimut. Sementara membagi kekuasaan strategis pada orang luar, sama saja memelihara perasaan was-was sepanjang waktu.
Pribadi yang kesepian ataukah memang itu ’seninya’ menjadi penguasa?
Catatan; mungkin hanya orang AL, Laksamana Sudomo yang benar-benar setia sampai akhir kekuasaannya. Namun derajat hubungan Sudomo dan Soeharto tak sama seperti halnya dengan Yoga & Ali Moertopo cs yang terbangun sejak bersama-sama di Diponegoro.
About this entry
You’re currently reading “Sepi,” an entry on Anusapati.com
- Published:
- 01.25.09 / 3am
- Category:
- Artikel






19 Comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]