Tanya Pram pada Tan Malaka

Bagaimana jika ternyata Tan Malaka adalah agen intelijen Jepang? Itulah ternyata yang terbersit dalam benak Pramudya Ananta Toer, maestro penulis novel kita. Sebuah kecurigaan yang (mungkin) tak ia jumpai jawabannya sampai perhentian terakhirnya tiga tahun silam. Namun setitik tanya tentang Tan Malaka itu masih sempat ia lemparkan ketika berdiri di depan podium untuk menerima Fukuoka Asian Culture Grand Pize di Jepang, tahun 2000 silam.

  • “I do not know the role of Tan Malaka, who was known as a nationalist and communist, in the relationship with Japan. I do know, however, that when Japan invaded Myanmar, Tan Malaka was in Myanmar. When Japan invaded Singapore, he was in Singapore. When Japan invaded Sumatra, he was in Sumatra. When Japan invaded Java, he was in Java. I still have not been able to unravel this mystery.”

Nakal bukan? Liar pasti lebih tepatnya. Memang tak secara eksplisit nada tanya itu disampaikan, tapi logika yang paling sederhana pun akan mengaitkannya dengan kegiatan spionase. Dan bagi saya, ini orisinil. Menarik sekali. Saya belum pernah membaca tulisan yang mengkaitkan Tan Malaka adalah agen intelijen asing, apalagi Jepang, kekuatan fasis yang mestinya diperangi oleh komunis seperti Tan Malaka.

Persoalannya menjadi kian menarik karena riwayat Tan Malaka pun tak mudah ditelusuri. Hidupnya lebih banyak di bawah keremangan bulan. Berpindah-pindah, mengendap-endap kesana kemari, lengkap dengan bumbu fiksi. Sebuah lakon yang membuat setengah kisah hidupnya yang ada di publik adalah fiksi. Bahkan tulisan paling komplet Harry Poeze tentang Tan Malaka pun boleh jadi tak bisa menelanjangi Tan Malaka kasat mata.

Tapi Pram juga pasti tak sembarang melempar tanya. Pram bukan cuma novelis, ia juga sejarawan andal. Ken Arok dan Kronik Revolusi memperlihatkan ketekunannya melakukan riset. Sebuah aktivitas yang bisa mencetaknya untuk tak mudah percaya dengan faktor kebetulan. Bagaimana tidak bertanya jika seseorang ’secara kebetulan’ ada di empat wilayah yang tak lama kemudian terkena invasi.

Pram memang tak menyebutkan dalil-dalil penguat kecurigaannya. Mungkin tak sempat. Atau mungkin juga saya alpa membaca kelanjutannnya. Maklum saya pun jauh dari lingkaran hidup Pram. Tapi baiklah bagaimana jika kita membuat alur tersendiri. Berandai menjadi sosok Pram, dan menelusuri kemungkinan Tan Malaka seorang agen Jepang.

Nah dalam perspektif meraba wacana itulah, kita akan mendapat penjelasan yang masuk akal. Yang namanya perang, termasuk juga jaman dahulu, kegiatan spionase adalah kelaziman. Sebelum operasi dilakukan, tim pertama yang diterjunkan adalah intelijen. Mereka menjalankan berbagai misi, entah spionase atau misi sosial agar resistensi masyarakat lokal bisa diredam.

Dua minggu sebelum Jepang menyerbu Ternate, mendadak Honun Maru - sebuah perusahaan swasta pelayaran - menutup kantornya yang berdiri sejak tahun 1934 di Manado dan Ternate. Sejurus kemudian, di antara tentara-tentara Jepang yang petantang-petenteng di Ternate, ada anak pemilik Honun Maru, Igawa yang membawa daftar orang yang harus ditangkapi Kempetai.

Tim semacam ini pula yang dimasuki oleh Ichiki Tatsuo pada musim semi di Tokyo tahun 1941. Pengalaman hidupnya di Palembang dan Bandung membuatnya ia dipanggil masuk dalam Korps kebudayaan. Korps ini dipimpin oleh Kolonel Machida Keiji dengan tugas menyusup ke Hindia Belanda untuk ‘mensosialisasikan’ bakal datangnya saudara tua mereka, Nippon.

Rata-rata mereka yang dipanggil punya kemampuan bahasa melayu. Entah itu lulusan universitas atau pernah tinggal di Hindia. Menariknya, jangan salah, tak semuanya warga asli Jepang. Pribumi Hindia Belanda pun ada, di antaranya adalah Yusuf Hassan, seorang agen yang diidentifikasikan dalam dokumen militer Jepang sebagai salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia.

Tan Malaka sendiri pun tak asing dengan korps ini. Setidaknya, ia mengenal baik salah satu anggotanya, yakni Yoshizumi Tomegoro yang dipanggilnya dengan sebutan Arief.  (Tatsuo pun punya nama Indonesia Abdul Rachman yang diberikan oleh KH Agus Salim. Kelak, tahun 1949, Tatsuo gugur ditembak Belanda setelahbergaung dengan republik dan menolak kembali ke negaranya.)

Adakah Tan Malaka masuk dalam korps intelijen tersebut? Jelas saya tak tahu jawabnya. Namun kira-kira dalam atsmosfer seperti itulah (mungkin Pram pikir) sosok Tan Malaka bisa hadir dalam misi spionase, mempersiapkan masyarakat lokal untuk menerima sang saudara tua. Hanya saja, ia kebagian peran tak strategis, menggarap masyarakat marginal di pelosok Banten.

Kalau ditambah dengan berandai-andai, amunisi kecurigaan itu bisa saja bertambah. Bisa saja selama dalam periode gelap menjadi buron polisi internasional di luar negeri, Tan bisa eksis karena dilindungi oleh agen-agen Jepang. Sekali lagi, ini hanya berandai-andai.

Tan sendiri bukannya tak tahu ia sempat digosipkan antek Jepang. Tatkala muncul warta bahwa ia berpidato di Sumatera Barat dalam seragam kolonel tentara Jepang, Tan membantahnya melalui biografinya, Dari Penjara ke Penjara. “Saya maklum, Jepang melakukan taktik ini untuk menipu rakyat,” katanya.

Adakah Tan Malaka jujur adanya? Jika imaji ini masih boleh melayang membayangkan Pram yang bertemu Tan Malaka di alam sana, apa jawaban kira-kira jawaban Tan Malaka?

Tulisan ini tak bermaksud untuk membuka pintu kontroversi, tidak juga memunculkan cerita fiksi yang baru tentang Tan Malaka. Hanya iseng, sekedar mencoba menyusuri perspektif yang mungkin digunakan Pram untuk bertanya pada Tan Malaka, siapa Anda?


About this entry