TERUNGKAP! (Benarkah?)

TERUNGKAP! Pertautan Soeharto-Untung. Begitu awal headline Koran Tempo hari ini. Wah saya senang juga membaca berita ini. Sudah lama tak ada berita yang berkaitan sejarah. Apalagi jadi headline. Koran Tempo (Kortem) sampai berani keluar dari mainstream pemberitaan gempa Sumbar dan juga episode Cicak vs Buaya, untuk mengungkapkan mata rantai yang belum tersambung antara Soeharto dengan Letkol Untung.

Saya sudah baca Kortem pagi tadi jam 06.00 WIB. Poin-nya adalah teori hubungan dekat Soeharto-Untung diteguhkan melalui serangkaian wawancara dan rekonstruksi peristiwa.

  1. Wawancara Suhardi, eks majikan kecil ayah angkat Untung di Solo sekaligus sejawat di Cakrbirawa; yang memprediksi tautan Untung dan Soeharto pertama kali ketika Untung bertugas di Korem Solo selepas melarikan diri dari Clash 1948.

  2. Rekonstruksi (katakanlah demikian) kedatangan Soeharto ke Kebumen; yang antara lain berdasar wawancara dengan tetangga di seputar kediaman Untung di Kebumen dan juga Kol Maulwi Saelan, bekas atasan Untung di Cakrabirawa. Isinya rata-rata mengiyakan kedatangan Soeharto, sampai ada yang bilang kedatangan Soeharto mendadak hingga membuat bingung tuan rumah.

Kalau melihat penyajian tulisan, titik berat penemuan tautan itu lebih pada poin kedua. Karena statemen Suhardi memang bukan hal yang baru. Mantan Jurnalis Kompas, Julius Pour pertama kali menuliskannya. Sementara, kesaksian tetangga Untung, memang publikasi yang baru. Begitu yakinnya Kortem telah menemukan ‘missing link’ itu, sampai menghasilkan headline seperti yang saya sebut di muka.

Lalu bagaimana?

Hmmm.

Saya termasuk yang percaya ada hubungan antara Untung dengan Soeharto. Walau saya tak tahu sedalam apa hubungan itu. Apakah langsung, jaga jarak atau dekat namun harus melalui Kolonel Latief. (Bisa dibaca dari pledoi Latief, bahwa semula Untung yang harus menyampaikan rencana Gestok ke Soeharto. Namun Untung meminta Latief karena dianggap lebih dekat pada Soeharto).

Namun saya pun mesti mahfum, mengaitkan kedekatan Soeharto dengan Untung memang bukan perkara gampang. Sejauh ini, teori kedekatan keduanya ini selalu merujuk pada peristiwa kedatangan Soeharto ke Kebumen menghadiri resepsi pernikahan Untung – yang coba dibuktikan Kortem. Memang itu salah satu poinnya selain pernyataan Soebandrio yang menyebut Untung mengaku di-back up Soeharto. Tapi apakah benar?

Bagi saya, tulisan Kortem memperkaya pengetahuan seputar rumor kedatangan Soeharto ke Kebumen. Namun belum menjawab mutlak kebenaran peristiwa itu. Saya bersandar pada 3 hal:

1. Saya belum menemukan motif Kemal Idris (Baca tulisan saya terkait ini) untuk menjadi bemper Soeharto dengan mengaku-aku bahwa dialah yang mewakili Soeharto menghadiri pernikahan Untung di Kebumen. Biografi itu ditulis ketika status Kemal dianggap dissident rezim Seeharto. (Kecuali tentunya, Kemal terpaksa berbohong demi rujuk dengan Soeharto pada saat itu).

2. Mengenai kesaksian tetangga Untung. Pertanyaannya adalah, seberapa mengenal warga desa dengan sosok Soeharto? Zaman itu, akses informasi dan transportasi tentu sangat buruk. Bagaimana jika yang datang Kemal yang mengaku mewakili Soeharto namun disosialisasikan sebagai Soeharto? Apakah ini takkan jadi salah persepsi.

3. Kesaksian Kolonel Maulwi Saelan maupun Suhardi. Ini jelas yang paling lemah. Keduanya mengakui tahu kedatangan Soeharto ke Kebumen sebatas katanya-katanya, berdasar rumor yang ada di kalangan perwira AD. Artinya kesaksian mereka bukan A1.

Nah,  dengan asumsi yang demikian…..benarkah telah TERUNGKAP….?

Tapi bagaimanapun, saya tetap salut dengan Kortem. Publik mestinya lebih banyak diingatkan akan sejarah masa lalu, agar tak salah langkah di masa depan.

Tabik.


About this entry