Anak-anak yang Terselamatkan
all men are brothers *)
Hubungan sosial sering kali diremas-remas oleh pertikaian politik. Sebuah pertarungan yang seringkali harus berakhir dengan kubangan nyawa. Anak-anak menjadi korban paling menyakitkan atas pertikaian itu. Untunglah ada saja malaikat-malaikat yang menyelamatkan para pemilik masa depan tersebut. Ini kisah tentang mereka.
Tersisa dari Clash 1948 adalah seorang anak bernama Darmawan Wiroreno. Ia putra dari dr Wiroreno, Residen Pati. Pak Residen ditembak mati di tengah alun-alun kota Pati karena sikapnya yang mendukung PKI Musso. Kalau membaca Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan-nya Soe Hok Gie, ilustrasi eksekusi dr Wiroreno sangat mengharukan. Bagaimana tentara algojonya bersimpuh meminta izin sebelum menembak Wiroreno. Itu karena Wiroreno tersebut dikenal sebagai dokter yang baik hati.
Wiroreno kecil diselamatkan oleh istri dari pamannya, Maria Ulfah. Tak sampai 6 bulan setelah itu, suami Maria Ulfah, Santoso Wirosadoyo gugur dalam Agresi Militer Belanda II. Meski demikian, Maria Ulfah yang pernah menjadi menteri sosial di era Kabinet Sjahrir itu, terus merawat Wiroreno kecil hingga dewasa. Saat dewasa, Darmawan Wiroreno tumbuh menjadi profesional top di bidang pertambangan.
Tak jauh beda dengan Darmawan, Damaris Harahap juga seketika kehilangan figur ayah saat mantan PM Amir Sjarifuddin tiba-tiba dieksekusi oleh Gatot Subroto di Karanganyar, pada tengah malam 19 Desember 1948. Setelah itu, sontak ibunya meninggalkan rumahnya di Yogyakarta dan mengasingkan diri beserta anak-anaknya selama puluhan tahun. Nyonya Sjarifuddin menjadi dewa pelindung anak-anaknya.
“Selama puluhan tahun, kami terpaksa menyembunyikan identitas kami. Demi keselamatan, kami mengganti nama Sjarifuddin yang ada di belakang kami dengan Harahap.” Begitu yang keluar dari mulut Damaris, tatkala untuk pertama kalinya (selama 60 tahun) menghadiri peringatan ulang tahun ayahnya di depan publik, Juni 2008 lalu di Jakarta. **)
Lika liku hidup yang pahit juga harus dijalani satria-satria klan Aidit. Oktober 1965, mulanya Iwan, Irfan dan Ilham ***) dijaga kakeknya, Abdullah Aidit yang tengah berada di Jakarta. Ayah ibunya, DN Aidit dan dr Soetanti sudah raib ketika itu. Tak tahan oleh gangguan massa apalagi setelah penemuan 6 jenderal di Lubang Buaya, sang kakek mengoper keselamatan 3 cucunya kepada adik Soetanti, seorang direktur D’lloyd yang lalu melarikannya ke Bandung setelah singgah di Manggarai.
Di Bandung, para jagoan kecil Aidit ditampung salah satu kerabat. Namun tak lama. Keluarga penampungnya, meski baik hati tak urung ketakutan juga. Pada saat itu, Paul Moedigdo, kriminolog Unpad berani menanggung risiko ganti mengasuh Aidit-Aidit junior. Tapi ia juga tak lama. Karena harus sekolah ke Belanda, akhirnya Moedigdo memasrahkan Iwan, Irfan dan Ilham pada kakaknya, Yohanes Moeljono.
Bukan hal yang gampang bagi Moeljono. Selain ia mesti siap dengan tekanan politik, penghidupannya sendiri tak mudah. Ada 8 anak yang harus ia biayai. Tapi Moeljono toh tulus menerima ketiga anak Aidit. 10 tahun lamanya, Iwan dan adik kembarnya, Irfan-Ilham bersama keluarga Moeljono. Ketiganya disekolahkan dengan biaya dan simpati yang tak luput dari orang-orang yang dulu mengenal ayah mereka.
Iwan akhirnya berhasil menembus Institut Teknologi Bandung (ITB), Irfan masuk Fakultas Kedokteran UI dan Ilham menyelesaikan studinya di Arsitektur Unpar. Kini, Iwan Hignasto bekerja di luar negeri (setelah di jaman Orba dipersulit karirnya), dan Ilham total sebagai arsitek. Sementara Irfan yang agaknya paling menderita traumatis, gagal menyelesaikan kuliahnya dan berdiam di Bandung.
Ada satu lagi yang saya ingat tentang anak-anak korban pertikaian Gestok ini. Sekitar 5 tahun lalu saya sempat bincang-bincang dengan dr Soegiarto. Beliau adalah putra dari Brigjen Soepardjo salah satu tokoh Gerakan 30 September 1965 - dan juga terpaksa menjalani masa-masa sulit selepas stigma politik yang ditancapkan penguasa ke dahi orang tuanya.
Tapi bukan keluarga Brigjen Soepardjo yang ingin saya singgung. Pada dr Soegiarto, saya bertanya bagaimanakah nasib anak Letkol Untung Samsuri, mengingat setahun sebelum geger 1965, ia menjalani pernikahan di Kebumen - yang konon dihadiri Suharto (atau Kemal Idris?) - dan dikaruniai seorang anak setahun kemudian.
dr Soegiarto menjawab dengan menyeruput kopi. Langsung saya tahu ia pasti tak akan mengatakannya. Tak apa, saya sangat bisa memahami. Tapi untunglah saya tak harus penasaran 100%, pak dokter yang tak pernah praktek itu - gara-gara kekangan Orba - mau sedikit memberi kabar. Katanya, begitu geger terjadi, si anak diambil anak oleh seorang pejabat tinggi negara, dan kini hidup tenang sebagai dosen di salah satu PTN.
Ahhh….syukurlah. Bagaimanapun tak ada dosa yang bisa diwariskan. ****)
*) Quote diinspirasikan dari cerita 108 Pendekar Liang Shan
**) Sinar Harapan, 4 Juni 2008
***) Dua puti sulung Aidit, Ibraruri dan Ilya saat itu berada di Moskow
****) Cerita ini tak menyebut bagaimana nasib para korban pertikaian dari golongan kanan. Bukan disengaja, namun karena datanya memang sulit. Sudah itu, tak seperti golongan kiri, keluarga korban dari golongan kanan umumnya justru mendapat kemudahan perlakuan dari pemerintah. Seperti yang dialami keluarga Kartosuwiryo yang mendapat kemudahan ekonomi dari Tim Opsus, Ali Moertopo.
About this entry
You’re currently reading “Anak-anak yang Terselamatkan,” an entry on Anusapati.com
- Published:
- 10.14.08 / 9am
- Category:
- Artikel






17 Comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]